KurniawanGunadi

Aug. 31

“Kita hanya perlu menjadi seseorang yang benar untuk seseorang yang tepat.” —

Kurniawan Gunadi

dan kamu akan mendapatkan hatinya :)

Tulisan : Menjalani Hidup Kita Saat Ini

Bagaimana kiranya rasanya menjalani hidup di tempat orang lain, menjalani hidup seperti seseorang yang kita kagumi, memiliki bakat seperti yang dimiliki orang lain, menjalani kuliah di almamater terbaik di negeri ini. Rasa penasaran itu sering muncul dalam hari-hari kita. Setiap mata kita memandang kagum pada orang lain. Bagaimana rasanya?

Bagaimana bila kita bukanlah kita, kita berada dalam tubuh orang lain. Menjadi seseorang yang lain, menjalani hidup yang sepertinya terlihat begitu menyenangkan. Kita tidak harus bersusah payah dengan otak yang pas-pasan, tidak perlu pusing memikirkan ujian di jurusan kuliah yang kita sendiri tidak tertarik menjalaninya. Kira-kira bagaimana rasanya? Sepertinya menyenangkan.

Kita bisa jadi terlalu sibuk memikirkan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Kesibukan itu membuat kita lupa merasakan setiap rinci apa yang telah kita alami. Sesuatu yang seharusnya menjadi pembelajaran berharga bila kita mau belajar. Mengapa kita diciptakan sebagai kita saat ini? Dengan segenap masalah-masalah, dengan paras yang seperti ini, dengan kemampuan otak dan tangan yang sepertinya pas-pasan. Mengapa kita tidak diciptakan seperti mereka, tidak dilahirkan dalam keluarga yang kaya raya seperti mereka, sehingga kita tidak perlu bersusah payah berhemat atau mencari penghidupan?

Ku kira, Tuhan tahu betul dimana posisi kita. Pernahkah kita berpikir, bila kita lahir di keluarga kaya raya, jangan-jangan kita akan menjadi sombong? Tuhan tidak menghendaki itu terjadi pada kita, kita dituntut belajar tentang kesederhanaan, merasakan bagaimana susahnya hidup dengan sedikit uang. Pernahkah kita berpikir, bila kita lahir dengan paras yang sangat menawan, jangan-jangan kita menjadi sombong? Tuhan, sekali lagi, tidak menghendaki itu terjadi kepada kita, kita dituntut belajar bahwa menilai seseorang bukanlah dari paras yang menawan.

Setiap kali kita merasa iri, setiap kali kita merasa ingin berada di posisi orang lain. Coba lihat seseorang yang jauh berada di bawah kita. Orang-orang yang hidupnya berjuang lebih keras daripada kita. Orang-orang yang mendambakan berada dalam posisi kita. Tahukah kita bahwa apa yang sedang kita jalani dan miliki saat ini ternyata menjadi impian yang sangat besar untuk orang lain? Kita sedang menjalani sesuatu yang hanya menjadi impian bagi orang lain. Kuliah, sekolah, memiliki gadget terbaru, jalan-jalan, dan apapun itu.

Semoga kita semua menyadari hal itu, sehingga kita tidak perlu resah. Dan kita kembali bersyukur bahwa hidup yang kita miliki saat ini. Sungguh sesuatu yang paling tepat untuk kita.

Bandung, 31 Agustus 2014 | (c)kurniawangunadi

Aug. 28

[video]

Aug. 25

[video]

Aug. 20

[video]

Ridwan Kamil Happiness Index Project -

"Sembari menunggu monorel yang mahal, kami melakukan sesuatu yang murah tetapi bermakna." 

Kurang lebih itulah yang dikatakan oleh Pak Ridwan Kamil (RK) semalam dalam Kultum Super Mentor 3.

Kemarin banget saya ke Bandung dan memang masih ada ruas jalan yang macet. Tapi, warga Bandung, sepengamatan saya, nggak protes banget-banget ke Pak RK karena while nunggu monorel jadi—sebagai salah satu instrumen pengurai kemacetan—Pak RK tetap doing something.

Menariknya, yang dilakukan Pak RK bukan hanya semata untuk meningkatkan taraf perekonomian, infrastruktur, atau apa pun namanya yang hanya-menjadi-unsur-pendukung-hidup-manusia, tapi ia “membenahi” manusianya itu sendiri: bikin happiness index.

Di video tersebut Pak RK mengunjungi rumah salah satu warga miskin di Bandung. Program ini memang jadi program Pak RK. Terlihat warga tersebut nangis karena nggak nyangka Pak RK dateng berkunjung. 

Pak RK membidik hati. Ia ingin warganya bahagia. Bukan semata makmur, sejahtera. Kalau nunggu makmur baru bahagia, mungkin lama atau at least perlu waktu. Membuat orang lain bahagia bisa dilakukan dengan hal-hal kecil macam kunjungan ini yang memang sangat menyentuh hati. 

Pemimpin yang seperti ini butuh doa dari kita banget-banget. Doa agar ia tetap konsisten. Tetap Allah jaga. Tetap ada di koridor yang benar. Terhindar dari fitnah. Yuk, doakan. 

(Quelle: dentykusuma, via rafikahasna)

“Ya Allah tempatkanlah karirku dimana dakwah dan ummat ini membutuhkanku, serta darinya aku dapat memenuhi kebutuhanku dan keluargaku.” —

Thanthowy Syamsudin

(Quelle: isnidalimunthe, via avinaninasia)

Tulisan : Prinsip Belanja

Hidup ini memiliki kebutuhan yang banyak secara materi. Pengelolaan materi/keuangan menjadi hal yang penting untuk dipahami baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Nah, sesekali tulisan kali ini saya ingin memberikan salah satu hal yang menjadi poin-poin penting dalam hal membelanjakan uang yang selama ini saya lakukan. Orang-orang yang mengenal saya pun sering melihat saya terlalu berlebihan dalam belanja sebuah barang, tapi semua itu memiliki dasar.

Saya menyukai salah satu prinsip teman saya, dia mengatakan bahwa: Bila kebutuhan ataupun keinginan kita bertambah, jangan berhemat. Tapi berpikirlah bagaimana caranya menambah pemasukan. Menarik sekali dan saya menggunakan cara tersebut. Kebutuhan saya kian bertambah pun keinginan saya terhadap sesuatu juga banyak. Untuk itu saya berupaya untuk menambah penghasilan saya selama ini.

Prinsip belanja ini diperkuat dengan latar belakang saya yang dulu belajar di dunia desain, dimana desain adalah ujung tombak dari sebuah produk konsumsi. Entah itu desain 2D ataupun 3D. Desain juga membuat harga barang kadang tidak masuk akal.

Sebagai konsumen, kita harus cerdas dan tahu betul apa yang kita beli. Jadi berikut ini adalah beberapa hal yang saya terapkan dalam  belanja saya selama ini. Saya tidak menulisnya secara urut berdasar prioritas.


Dan masih banyak lagi prinsip-prinsip belanja yang bisa teman-teman terapkan dalam kehidupan sehari-hari, saya hanya memberikan beberapa poin besar dari prinsip belanja saya sendiri. Kadang kita merasa terlalu boros, padahal tidak bila kita berpikir investasi dan jangka panjang. Penggunaan uang yang bijak itu bukan berdasar pada jumlahnya, tapi nilai apa yang kita dapatkan dari uang yang telah kita keluarkan. Nah, selamat berbijaksana dalam berbelanja :)

Bandung, 20 Agustus 2014

Aug. 18

“Pemilihan pasangan adalah batu pertama fondasi bangunan rumah tangga, ia harus sangat kukuh, karena kalau tidak, bangunan tersebut akan roboh kendati hanya dengan sedikit goncangan. Apalagi jika beban yang ditampungnya semakin berat dengan kelahiran anak-anak. Fondasi kukuh tersebut bukan kecantikan atau ketampanan, karena keduanya bersifat relatif, sekaligus cepat pudar; bukan juga harta, karena harta mudah didapat sekaligus mudah lenyap; bukan pula status sosial atau kebangsawanan, karena yang ini pun sementara, bahkan dapat lenyap seketika. Fondasi yang kukuh adalah nilai-nilai spiritual yang dianut.” —

M.Quraish Shihab

Aug. 16

Ada yang Tahu Siapa Namanya?

Setiap kali aku duduk di sini, di sebuah serambi masjid. Ia selalu datang berjalan dari arah utara ketika adzan berkumandang. Membawa tas dalam dekapan, jalan menunduk dan langkah yang gesit. Meski tidak setiap hari aku duduk di sini, tapi setiap kali di sini ia selalu datang dengan cara yang sama. Aku menatap sekitarku. Kira-kira, ada yang tahu siapa namanya?

Aku tidak mengenalinya dan tidak berusaha mengenalkan diri. Ingin tapi tidak tahu caranya. Ingin tapi malu untuk mulai bertanya. Padahal urusan ini sebenarnya sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku. Padahal apa susahnya. Seandainya aku tahu siapa namanya.

Aku tidak tahu ia menyadari kehadiranku atau tidak seperti aku yang selalu menyadari keberadaannya. Meski tatap mata kita tidak pernah bertemu. Meski berpapasan beribu-ribu. Kita tidak ada salam, bahkan tidak ada senyum. Meski aku tahu kemudian hari ternyata lingkaran pertemanan kita beririsan. Aku masih tidak bisa bertanya pada teman tentang siapa namanya. Padahal apa susahnya. Urusan ini sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku.

Aku ingin mengenalnya tapi malu. Aku melihat di sekitarku, mencari tahu sendiri jawabnya. Ada yang tahu siapa namanya?

Bandung, 16 Agustus 2014 | (c)kurniawangunadi