KurniawanGunadi

Sept. 17

Tulisan : Mempertanyakan Hidup Kita Sendiri

Kita tidak tahu apa-apa tentang hidup orang lain, sebagaimana orang lain sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang hidup kita. Bahkan sebenarnya kita tidak benar-benar tahu tentang hidup kita sebanyak pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran kita tentang hidup kita sendiri.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu pun tidak serta merta ada seketika kita bertanya. Ada waktu yang harus dilepaskan, ada tenaga yang harus dikeluarkan, ada keresahan yang harus dirasakan, ada ketakutan yang harus di hadapi. Demi sebuah jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan kita atas hidup kita sendiri semakin membuat khawatir hari demi hari. Seperti menumpuk sebuah masalah padahal tidak asal kita terus melangkah. Kita tidak akan mendapatkan apapun jika kita berdiam diri.

Pertanyaan yang membuat makan kita hilang rasa, membuat tidur kita terbangun, membuat keceriaan kita seketika  bungkam. Pertanyaan yang mendatangkan resah. Tapi, siapa sangka keresahan itu membuat doa-doa kita semakin dalam, semakin tulus, terasa lebih dekat kepada Tuhan.

Tidak semua nikmat itu dalam bentuk kebahagiaan. Itu yang aku pahami. Nikmat serupa kekhawatiran pun bisa kita syukuri bila kita paham bahwa kekhawatiran itu benar-benar membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Seolah-olah tidak ada lagi daya yang bisa kita lakukan dan hanya kepada-Nya kita menggantungkan segala bentuk jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan hidup kita tentang esok hari, tentang pasangan hidup seperti apa yang akan mendampingi kita, tentang karier, tentang rejeki, bahkan tentang hidup setelah mati. Setidaknya kita jangan berhenti, karena langkah kaki kita akan memperdekat kita kepada semua jawaban dari pertanyaan itu.

Esok kita akan bertemu dengan orang yang akan mendampingi kita, esok kita akan tahu berapa jumlah anak kita, esok kita akan tahu kita bekerja dimana, esok kita akan mengingat hari ini, bahwa pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada jawabnya.

Bandung, 17 September 2014 | (C)kurniawangunadi

[video]

Sept. 15

Cerpen : Langit Runtuh di Negeri Sunyi

Sebuah negeri yang luas dihuni seorang diri. Kesunyian tidak memandang luas dan sempit sebuah ruang, karena sunyi itu benar-benar membuat perjalanan seorang manusia begitu melelahkan. Sebuah negeri yang luas dihuni seorang diri, melakukan perjalanan dalam dunianya seorang diri. Berusaha menemukan orang lain tapi tidak ada siapa-siapa.

Negeri yang luas tapi kosong, negeri yang indah tapi sunyi sepi, menjadi menakutkan seindah apapun keadaannya. Sebab keindahan itu tidak bisa dibagi dengan siapapun.

Seorang manusia hidup dalam negeri sunyi, seorang diri. Negeri itu ada di hati dan pikirannya. Berjalan ke sana kemari. Catatan perjalanan terukir di pohon-pohon, ditulis diatas batu, tercecer sepanjang perjalanannya yang sunyi.

Bertahun-tahun berjalan, tidak pernah berhenti melangkah, percaya bahwa negeri sunyi ini memiliki ujung, nyatanya ia kembali ke tempat semula. Negeri sunyi bulat laksana bumi. Tidak ada ujungnya.

Suatu malam, ketika ia duduk di tepi pantai yang sunyi, tanpa suara gemuruh ombak. Bintang-bintang bergerak, semakin cepat. Berjatuhan dari langit. Ia lari untuk melindungi diri, bertanya-tanya apa yang terjadi dengan langit.

Bintang-bintang jatuh tak terhitung, berjatuhan di negeri sunyi. Merusak taman dan pepohonan, menghancurkan banyak keindahan. Negeri sunyi hancur berantakan. Ia memandang nanar negeri sunyinya selama ini. Sesuatu yang ia tinggali bertahun-tahun, membuatnya terbiasa dengan kesunyian. Kini hancur berantakan.

Langit runtuh malam itu. Ia mencari tahu apa sebabnya. Berjalan ke sana kemari, tapi tidak tahu bertanya siapa. Karena memang tidak ada siapa-siapa.

Apa kau percaya bahwa ada manusia yang tinggal di langit? Atau sejenis bidadari yang jatuh dari kahyangan?

Ia tertegun ketika melihatmu di balik reruntuhan. Dengan gaun panjang yang bersih seolah-olah kamu datang baru saja dengan kereta kencana. Ia terdiam, berdiri, karena ini pertama kali dalam hidupnya ia bertemu orang lain di negeri sunyinya.

Seseorang yang ternyata pada suatu hari diketahui mendobrak langitnya. Menghancurkan kesunyian yang nyaman, memporak-porandakan ketenangan. Sejak hari itu, negeri sunyi tidak lagi sunyi. Kesunyian itu berakhir dengan runtuhnya langit malam itu. Seseorang telah menembus negeri sunyi tanpa ketuk pintu. Itu kamu.

Bandung, 15 September 2014 | (c)kurniawangunadi

Sept. 14

Tulisan : Tempat Tinggal

Suatu ketika, pada masamu, pada umurmu yang semakin menua, akan ada satu titik dimana kamu akan mulai memikirkan dimana kamu akan mendirikan sebuah rumah. Rumah dalam bentuk fisik.

Rumah yang melindungimu dari hujan dan matahari. Sebuah rumah yang akan menjadi saksi bisu perjalananmu. Sebuah tempat dimana kamu akan selalu pulang setiap hari.

Pada rentang 22-27 tahun usiamu, ketika masa dimana banyak keputusan hidup menjadi sebuah pilihan permanen, kamu akan dituntut untuk memutuskan banyak hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah kamu bayangkan.

Sebelum semuanya sampai di waktunya, persiapkanlah apa yang bisa kamu siapkan. Apapun itu meski sekadar mempersiapkan sebuah pilihan. Itu lebih baik daripada tidak memiliki pilihan sama sekali.

Kamu bisa merancang masa depan. Karena masa depan itu adalah langkah kakimu hari ini. Kebijaksanaan pikiranmu hari ini. Dan setiap keputusan yang kamu ambil hari ini.

Bismillah.

Bandung, 14 September 2014 | (c)kurniawangunadi

[video]

Sept. 12

Tulisan : Rumah dan Sebuah Kata Pulang

Perjalanan ini mengingatkan kita bahwa kita punya tempat bermula. Suatu tempat yang lama kita huni. Suatu tempat yang bernama rumah.

Dan sudah sejauh ini kita meninggalkannya. Rumah menjadi sesuatu yang paling sering kita tinggal pergi, tapi selalu berhasil membuat kita merasa ingin pulang.

Sejauh apapun perjalanan yang kita lakukan, setinggi apapun langit yang ingin kita capai. Kita akan kembali.

Seperti sebuah roda yang berputar, dimana sebuah titik berawal di sanalah ia akan kembali.

Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa kita tidak bisa selamanya tinggal di luar. Ada hal yang bisa memberi kita rasa aman dan terlindungi. Kita bisa tidur nyenyak tanpa takut ada yang akan mencuri, terutama mencuri hati kita. Karena di sanalah kunci rumah itu berada.

Pada akhirnya kita akan pulang ke tempat kita bermula. Kembali kepada (si)apapun yang kita sebut sebagai rumah. Dimana lelah kita berakhir dan kita membangun cinta.

Rumah, 12 September 2014 | (c)kurniawangunadi

Sept. 11

Sept. 10

“Sebenarnya semua orang rumit, Allah Maha Hebat bisa paham semuanya.” —

Nydya Parahita

[video]

Sept. 09

[video]