KurniawanGunadi

Aug. 28

[video]

Aug. 25

[video]

Aug. 20

[video]

Ridwan Kamil Happiness Index Project -

"Sembari menunggu monorel yang mahal, kami melakukan sesuatu yang murah tetapi bermakna." 

Kurang lebih itulah yang dikatakan oleh Pak Ridwan Kamil (RK) semalam dalam Kultum Super Mentor 3.

Kemarin banget saya ke Bandung dan memang masih ada ruas jalan yang macet. Tapi, warga Bandung, sepengamatan saya, nggak protes banget-banget ke Pak RK karena while nunggu monorel jadi—sebagai salah satu instrumen pengurai kemacetan—Pak RK tetap doing something.

Menariknya, yang dilakukan Pak RK bukan hanya semata untuk meningkatkan taraf perekonomian, infrastruktur, atau apa pun namanya yang hanya-menjadi-unsur-pendukung-hidup-manusia, tapi ia “membenahi” manusianya itu sendiri: bikin happiness index.

Di video tersebut Pak RK mengunjungi rumah salah satu warga miskin di Bandung. Program ini memang jadi program Pak RK. Terlihat warga tersebut nangis karena nggak nyangka Pak RK dateng berkunjung. 

Pak RK membidik hati. Ia ingin warganya bahagia. Bukan semata makmur, sejahtera. Kalau nunggu makmur baru bahagia, mungkin lama atau at least perlu waktu. Membuat orang lain bahagia bisa dilakukan dengan hal-hal kecil macam kunjungan ini yang memang sangat menyentuh hati. 

Pemimpin yang seperti ini butuh doa dari kita banget-banget. Doa agar ia tetap konsisten. Tetap Allah jaga. Tetap ada di koridor yang benar. Terhindar dari fitnah. Yuk, doakan. 

(Quelle: dentykusuma, via rafikahasna)

“Ya Allah tempatkanlah karirku dimana dakwah dan ummat ini membutuhkanku, serta darinya aku dapat memenuhi kebutuhanku dan keluargaku.” —

Thanthowy Syamsudin

(Quelle: isnidalimunthe, via avinaninasia)

Tulisan : Prinsip Belanja

Hidup ini memiliki kebutuhan yang banyak secara materi. Pengelolaan materi/keuangan menjadi hal yang penting untuk dipahami baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Nah, sesekali tulisan kali ini saya ingin memberikan salah satu hal yang menjadi poin-poin penting dalam hal membelanjakan uang yang selama ini saya lakukan. Orang-orang yang mengenal saya pun sering melihat saya terlalu berlebihan dalam belanja sebuah barang, tapi semua itu memiliki dasar.

Saya menyukai salah satu prinsip teman saya, dia mengatakan bahwa: Bila kebutuhan ataupun keinginan kita bertambah, jangan berhemat. Tapi berpikirlah bagaimana caranya menambah pemasukan. Menarik sekali dan saya menggunakan cara tersebut. Kebutuhan saya kian bertambah pun keinginan saya terhadap sesuatu juga banyak. Untuk itu saya berupaya untuk menambah penghasilan saya selama ini.

Prinsip belanja ini diperkuat dengan latar belakang saya yang dulu belajar di dunia desain, dimana desain adalah ujung tombak dari sebuah produk konsumsi. Entah itu desain 2D ataupun 3D. Desain juga membuat harga barang kadang tidak masuk akal.

Sebagai konsumen, kita harus cerdas dan tahu betul apa yang kita beli. Jadi berikut ini adalah beberapa hal yang saya terapkan dalam  belanja saya selama ini. Saya tidak menulisnya secara urut berdasar prioritas.


Dan masih banyak lagi prinsip-prinsip belanja yang bisa teman-teman terapkan dalam kehidupan sehari-hari, saya hanya memberikan beberapa poin besar dari prinsip belanja saya sendiri. Kadang kita merasa terlalu boros, padahal tidak bila kita berpikir investasi dan jangka panjang. Penggunaan uang yang bijak itu bukan berdasar pada jumlahnya, tapi nilai apa yang kita dapatkan dari uang yang telah kita keluarkan. Nah, selamat berbijaksana dalam berbelanja :)

Bandung, 20 Agustus 2014

Aug. 18

“Pemilihan pasangan adalah batu pertama fondasi bangunan rumah tangga, ia harus sangat kukuh, karena kalau tidak, bangunan tersebut akan roboh kendati hanya dengan sedikit goncangan. Apalagi jika beban yang ditampungnya semakin berat dengan kelahiran anak-anak. Fondasi kukuh tersebut bukan kecantikan atau ketampanan, karena keduanya bersifat relatif, sekaligus cepat pudar; bukan juga harta, karena harta mudah didapat sekaligus mudah lenyap; bukan pula status sosial atau kebangsawanan, karena yang ini pun sementara, bahkan dapat lenyap seketika. Fondasi yang kukuh adalah nilai-nilai spiritual yang dianut.” —

M.Quraish Shihab

Aug. 16

Ada yang Tahu Siapa Namanya?

Setiap kali aku duduk di sini, di sebuah serambi masjid. Ia selalu datang berjalan dari arah utara ketika adzan berkumandang. Membawa tas dalam dekapan, jalan menunduk dan langkah yang gesit. Meski tidak setiap hari aku duduk di sini, tapi setiap kali di sini ia selalu datang dengan cara yang sama. Aku menatap sekitarku. Kira-kira, ada yang tahu siapa namanya?

Aku tidak mengenalinya dan tidak berusaha mengenalkan diri. Ingin tapi tidak tahu caranya. Ingin tapi malu untuk mulai bertanya. Padahal urusan ini sebenarnya sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku. Padahal apa susahnya. Seandainya aku tahu siapa namanya.

Aku tidak tahu ia menyadari kehadiranku atau tidak seperti aku yang selalu menyadari keberadaannya. Meski tatap mata kita tidak pernah bertemu. Meski berpapasan beribu-ribu. Kita tidak ada salam, bahkan tidak ada senyum. Meski aku tahu kemudian hari ternyata lingkaran pertemanan kita beririsan. Aku masih tidak bisa bertanya pada teman tentang siapa namanya. Padahal apa susahnya. Urusan ini sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku.

Aku ingin mengenalnya tapi malu. Aku melihat di sekitarku, mencari tahu sendiri jawabnya. Ada yang tahu siapa namanya?

Bandung, 16 Agustus 2014 | (c)kurniawangunadi

Tulisan : Jeda

Setiap orang, aku rasa memerlukan jeda dalam hidupnya. Bila setiap harinya disibukkan dengan aktivitas yang menguras waktu, mungkin ia perlu mengambil jeda. Jeda dimana ia bisa duduk sebentar, menarik nafas, dan melihat ke dalam diri sendiri dan sekitarnya. Apa yang sedang terjadi dan apa yang ia alami.

Jeda yang ku ambil adalah keputusan untuk beberapa hari ini tidak menulis. Hanya untuk tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Apa yang sedang terjadi di luar diri sendiri. Melihat lebih jauh tentang semua hal yang datang silih berganti. Karena mungkin selama ini aku terlalu sibuk pada diri sendiri.

Hal ini membuatku belajar. Bahwa di tengah berbagai hal yang datang dalam hidupku, orang lain telah mencapai pencapaian-pencapaiannya masing-masing. Fase hidup telah berubah sangat jauh dalam lima tahun terakhir.

Ketika orang lain berbahagia dan mengajakku merayakan kebahagiaannya, entah dengan makan bersama atau hal lain. Aku berpikir, apa yang telah aku lakukan? Mengapa mereka bisa sementara aku tidak.

Memang mengukur diri sendiri dengan orang lain bukanlah hal baik. Tapi sesekali kita membutuhkannya agar kita berkembang dan tumbuh. Mengambil jeda dalam hidup kita dan membuat evaluasi atas diri kita sendiri. Seluruh hal yang telah kita lakukan dan berikan. Kebermanfaatan apa yang telah kita lakukan. Kita pilah lagi dihidup kita, mana hal yang menghambat dan mana hal yang membuat maju.

Jeda kita ambil untuk melakukan perenungan dan evaluasi terhadap diri sendiri. Bahwa sebenarnya kita bisa melampaui apa yang kita pikirkan. Di luar sana, terlalu banyak orang yang sibuk dan fokus pada diri sendiri. Mengambil jeda waktu pun hanya untuk liburan sebentar dan untuk kesenangan diri sendiri. Ambilah satu waktu dalam hidupmu untuk meneliti dirimu sendiri. Merenungkan tujuan penciptaanmu, merenungkan dirimu atas waktu-waktu yang telah kamu habiskan. Agar kita menjadi manusia yang senantiasa tumbuh dan berkembang.

Bandung, 16 Agustus 2014 | (c)kurniawangunadi

Aug. 15

(via rerainandcoffee)