MASGUN

Apr. 23

Titik Temu

Di dunia ini, ada saja orang yang jatuh cinta karena tulisan. Ada juga yang jatuh cinta karena kebaikan tutur kata, bahkan karena suara.

Jatuh hanya dengan alasan yang sederhana. Tidak membutuhkan kejadian yang dramatis. Semua mengalir begitu sederhana.

Dulu, aku sering bertanya,”Mengapa orang bisa bersatu tanpa bertemu terlebih dahulu?”. Tidak saling kenal. Dulu, di masa kakek nenek kita mungkin. Sekedar tahu alamat rumahnya saja menjadi bahagia. Setidaknya, menjadi tahu kemana surat cinta harus dikirim.

Kini aku tahu bahwa perasaan itu bisa tumbuh tanpa pertemuan. Hanya saling tahu dari jarak yang jauh. Hanya saling berkirim kabar. Hanya saling mencari tahu satu sama lain. Aku menjadi tahu bahwa pertemuan tidak selalu menjadi awal mula segalanya, tapi rasa ingin tahu.

Siapakah orang itu?
Siapakah gerangan dia?
Siapa namanya?
Mengapa dia begitu menarik?
Mengapa dia begitu baik?
Darimana datangnya?

Dan sejumlah pertanyaan yang menjadi titik awal juga titik temu.


Rumah, 22 April 2014 | ©kurniawangunadi

Apr. 22

Cerpen : Gadis Hujan

Kau tau?
Aku selalu berdoa semoga tidak bertemu dengan gadis satu almamater. Bilapun bertemu, aku selalu berharap itu berada di dunia luar. Tidak saling mengetahui asal usul kita. Lalu, sama-sama tertawa saat tahu ternyata kita saat almamater.

Kau tau?
Aku tidak pernah mencari seorang gadis satu almamater. Bangku sekolah ini terlalu arogan, terlalu keras, dan terlalu melangit. Seringkali memandang begitu jauh hingga lupa apa yang ada di dekat. Seringkali melihat dari atas dan lupa bahwa kita semua sejajar mata.

Aku tidak pernah mencari. Tapi seperti dulu aku bilang, ‘Jangan Jakarta’. Nyatanya aku justru hidup ditengah-tengahnya. Mungkin benar kata orang, hati-hati terhadap kata-kata sendiri.

Bila saja kita bertemu di dalam almamater sana, mungkin aku sama sekali tidak akan memikirkanmu. Sayangnya ceritanya tidak begitu. Kita harus bertemu dikala hujan. Saat kita sama-sama kalah oleh dingin dan basah air. Saat kita harus bersembunyi di bawah atap-atap yang melindungi kita dari kejaran hujan. Kita bertemu. Pertemuan pertama.

Temanggung, 22 April 2014 | (c)kurniawangunadi

[video]

[video]

Apr. 21

CeritaJika #48 : Jika Istrimu Seorang Broadcaster

Memilih masuk ke dalam industri media artinya telah menyerahkan jiwa dan raga untuk dunia. Mengapa? Karena media memiliki tanggung jawab yang besar atas berubahan dan perkembangan zaman di dunia ini. Jika istrimu seorang kuli media, hal yang kufikirkan pertama kali untuk kusarankan adalah kamu harus bangga. Bangga di sini bukan perkara dia memakai pakaian seragam yang menurut banyak orang awan itu sesuatu yang keren. Bangga di sini karena istrimu telah cukup banyak melihat dunia secara langsung. Setidaknya ini bekal baik untuk mendidik anak-anakmu kelak.

Kuli-kuli media bekerja 24 jam dalam seminggu dengan waktu istirahat yang tidak pasti. Jangan heran kalau kami tidak seperti wanita kantoran yang cepat mengeluh karena penat, bukan karena kami tomboy, tapi kami sadar kami harus kuat dan berani. Kami bekerja tidak hanya menggunakan tenaga, tapi fikiran kami di-push untuk lebih cepat dan tanggap dalam setiap bekerja, bahkan ketika kami sedang harus mengeluarkan otot dalam proses produksi, kreativitas kami tetap harus berjalan dengan batas yang disebut deadline. Kami multitasking. Kami tidak bisa mengeluarkan hal yang asal-asalan, kami harus banyak meriset, harus membuka fikiran, harus membuka ruang, membuka pergaulan untuk mencari ilmu langsung, kami diberikan tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa melalui sebuah sajian. Tolong jangan marahi kami ketika kami sampai di rumah nanti kami ingin dimanja dan dipeluk, bukan karena kami cengeng, tapi kasih sayang dan perhatian keluarga adalah obat terbaik untuk me-refresh otot dan otak kami. Di luar kami memang kuli, berjuangan tidak ingin dikalahkan oleh emosi dan keluh. Namun di rumah kami tetaplah seorang wanita, seorang istri yang butuh diperlakukan lemah lebut dan menjalani segala perintah suami.

Untuk zaman sekarang, kami bekerja di pertengahan garis. Bekerja untuk perusahaan yang membayar kami untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari rating- share, dan bekerja untuk rakyat yang membutuhkan kami, butuh dihibur dan dicerdaskan. Fungsi kami bukan hanya sekedar membuat sajian siaran yang menghibur dan mengedukasi, dunia penyiaran ditujukan pula untuk kepentingan publik. Jadi jangan cemburu kalau ada suatu waktu istrimu cukup banyak lebih meluangkan waktu untuk pekerjaannya. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk negeri ini, untuk menjadikan negeri ini lebih baik lagi, dan kita (aku, kamu, dan anak kita) juga bagian dari negeri ini.

Kami berjalan mencari celah ke setiap pelosok wawasan dan anak-anak ilmu pengetahuan agar apa-apa yang kami sajikan adalah hal baru yang dapat mencerdaskan penonton. Jangan takut anakmu akan kekurangan wawasan, ibunya adalah pengatur panggung lakon yang dieluh-eluhkan setiap masyarakat. Jangan takut anakmu akan kekurangan perhatian, ibunya adalah pemerhati setiap detak detik roda dunia yang memiliki sebab akibat. Jangan khawatir dia akan melupakanmu, karena sekuat-kuatnya wanita, kamu yang telah dipilihnya adalah tempat terbaik, selimut paling hangat, lengan paling kuat untuk melindunginya, jari paling lembut untuk menghapus dukanya, dan figur yang paling bisa diandalkan untuk mengatur hidupnya. Keluarga adalah surga dunia untuk anak-anak media.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

pengirim :

Imelda Maizardi Idrus

Broadcasting - Universitas Indonesia 2010

Creative Global TV

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

Cerita Jika #47 : Jika Suamimu Seorang Anak Laki-laki Satu-satunya di Keluarganya

Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga bukanlah perkara yang mudah dalam menjalani kehidupan, ada sebuah tanggung jawab yang harus dipikul. Mungkin dulu saat belum dewasa hal itu tidak menjadi masalah, namun ketika sudah dewasa dan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga menjadi ‘beban’ tersendiri. Terlebih memilki saudara yang banyak, ekonomi pas-pasan.

Mungkin setelah menikah dengannya kamu akan merasa tidak suka, karena kamu merasa dia pilih kasih. Uang belanja bulananmu yang dia berikan mungkin kurang, karena dia harus memberikan sebagian gajinya untuk keluarganya. Ia harus membayar uang kuliah adiknya, memberikannya kepada orang tuanya yang sudah tak mampu lagi untuk bekerja karena sudah tua, membatu kakak-kakaknya yang ekonominya pas-pasan.

Mungkin kamu akan bosan mendengar kata “maaf” karena dia telah memberikan sebagian gajinya diam-diam kepada keluargnya. Mungkin kamu akan bosan dengan makanan sehari-hari yang sederhana karena uang belanja kurang. Mungkin kamu akan bosan mendengar kata “sabar” ketika kamu ingin beli suatu barang, karena sisa uang gajinya tak cukup.

Mungkin kamu juga akan mengadu kepada orang tuamu dan protes kepadanya kenapa yang selalu dia bahagiakan lebih banyak keluarganya, sementara keluargamu, hanya sesekali saja. Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga bukanlah perkara yang mudah. Apalagi dengan saudara yang banyak dan ekonomi pas-pasan. Dia harus bertanggung jawab terhadap mereka, ayahnya sudah tua, tak mampu lagi mencari nafkah untuk keluarga. Biarlah beliau menikmati masa tuanya dengan damai bersama ibu. Mungkin dia satu-satunya harapan bagi mereka, karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Mungkin dia satu-satunya juga anak yang dapat mengenyam bangku kuliah karena dia anak laki-laki.

Mungkin dia sedang  menjalankan amanat ayahnya, bahwa dia anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, yang nantinya akan menggantikan posisi ayahnya dalam keluarga. Nanti suatu saat jika saudara-saudarnya sedang ada masala kepadanya lah tempat mereka bercerita, karena dia anak laki-laki. Menyekolahkan adiknya setinggi-tingginya jadi tidak hanya dia yang menikmati bangku kuliah. Serta menjaga kedua orang tuanya karena mereka sudah tua. Dialah harapan bagi mereka semua.

Mungkin kamu menyesal memilihnya, karena kebahagiaan yang kamu harapkan harus dia bagi untuk keluargnya. Mungkin dia juga malu selalu meminta maaf untuk keluargamu karena hanya sesekali berbagi kebahagiaan untuk mereka. Mungkin bukan maksudnya ingin membeda-bedakan karena selagi bisa dan mampu anak lelaki bertanggung-jawab atas ibunya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya. Jadi selagi Ibunya, orang tuanya masih hidup dia ingin membahagiakan mereka. Bagaimana mungkin dia yang dibesarkan dengan jerih keringat mereka, setelah sukses dia lupa membahagiakan mereka. Tapi percayalah, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu. Karena kewajibannya sebagai laki-laki dalam rumah tangga tidak hanya menanggung dosanya sendiri tapi juga dosa seorang isteri, dosa anak perempuan yang belum nikah dan dosa anak lelaki yang belum baligh.

Dia hanya butuh pengertianmu sebagai istrinya, jika suami seorang anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.

 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

 pengirim :

Muhammad Fahmi Trisnadi

Akuntansi - STAN

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

[video]

Apr. 20

Apr. 19

Hijab Itu Melindungi, bukan Mengasingkan

Tulisan ini sengaja saya copy-paste dari salmanitb.com dan artikel ini sempat beberapa waktu yang lalu saya posting di tumblr. Saya repost ulang karena kebermanfaatnya, semoga memberikan pemahaman yang baik.

Sumber asli tulisan : disini

Hukum hijab pada hubungan laki-laki dan perempuan diberlakukan karena alasan-alasan yang logis. Namun bukan berarti hijab membatasi dan memisahkan keduanya secara penuh.

Kata “hijab” seringkali digaungkan oleh banyak orang. Pada satu sisi ada yang beranggapan hijab merupakan suatu ketentuan Islam yang pasti positif. Namun ada pula yang beranggapan hijab menghambat aktivitas dan kegiatan-kegiatan yang bersifat profesional. Dalam hal ini, terutama hijab hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Berkaitan dengan masalah hijab, hukum hijab ditetapkan justru bukan untuk memisahkan keduanya. Laki-laki dan perempuan justru harusnya saling berinteraksi. Perbedaan-perbedaan dalam keduanya tercipta untuk saling mengisi. Hanya saja, harus ada kaidah moral yang menjaga.

Itu semua disampaikan oleh Adriano Rusfi, seorang konsultan pendidikan dan SDM, yang juga aktif sebagai pembicara di berbagai seminar.  Pria lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menyampaikan pendapat-pendapatnya soal hijab hubungan laki-laki dan perempuan kepada  Nadhira Rizki, pada Rabu (29/5) lalu. Dalam sesi wawancara di Masjid Salman tersebut, lelaki yang biasa disapa dengan sebutan Bang Ad juga mengkritisi pendapat bahwa hijab menghalangi dan membatasi. Padahal sebetulnya ada alasan-alasan logis di baliknya, baik dari sisi psikologi, fisiologi, dan terutama dari sisi Islami.

Apa sebenarnya yang “dilindungi” oleh hijab? Fenomena apa yang membuat hijab menjadi penting sekaligus menjadi bahan perdebatan banyak orang? Simak petikkan wawancara dengan beliau di bawah ini.

Menurut Abang, mengapa hukum hijab harus dipatuhi?

Jadi begini, dalam Islam hijab di mana-mana ada. Dalam hidup ini juga ada hijab yang mesti dijaga. Kenapa, karena antara laki-laki dan perempuan itu saling tariknya tinggi. Justru karena adanya tarik-menarik ini, di-manage secara baik lewat hijab. Kenapa? Karena tanpa ada proses hijab, gaya tarik-menarik tersebut bisa menyebabkan kerugian pada satu pihak. Kemungkinan besar biasanya perempuan, karena laki-laki punya kecenderungan untuk agresif. Misalnya, hubungan seks antara keduanya. Siapa yang kira-kira akan menjadi pemikul resiko terbesar bila terjadi kehamilan? Itu perempuan.

Kemudian, adanya hijab justru memelihara gaya tarik-menarik tadi. Misalnya mereka saling tertarik, terus nggak ada hijab. Dilepas aja, tarikan-tarikan itu. Nanti lama-lama mulai jenuh, mulai bosan, mulai tidak menarik lagi. Sama kayak magnet. Kalau magnet itu terus menerus dipertemukan, tarik-menarik, kan lama-lama gayanya sendiri berkurang.

Bagaimana pendapat Abang soal teori yang mengatakan bahwa hukum hijab membatasi sepenuhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan?

Dulu saya tahun 2003 pertama kali bergabung dengan salman, saya diminta untuk bikin outbond di daerah Cikole. Oke, saya akan bikin kelompok, campur laki-laki dan perempuan. Oh, tentu diprotes. Sampai panitianya sendiri deg-deg-an. “Aduh, Bang saya bisa diprotes sama orang.” Lho, saya bikin pengelompokkan, kegiatannya di hutan, kalau saya nggak campur laki-laki sama perempuan kalau perempuannya kemudian terjatuh, terseret arus sungai segala macem, ini gimana kalau nggak ada cowok dalam tim tersebut? Akhirnya saya jelaskan dalil-dalil dan seterusnya, akhirnya mereka paham. Walau awalnya cemas, dikritik keras dan semacamnya.

Saya memesankan satu hal waktu itu, temen-temen saat ini para mahasiswa hobi bener mengatakan “syar’i”. Padahal ada yang lebih tinggi dari syar’i, Islami. Karena syar’i itu hanya bagiannya saja. Jangan sampai gara-gara demi syar’i, kita menjadi tidak Islami. Apa contohnya? Ya contohnya tadi yang saya bilang. Ada akhwat mau jatoh, dengan alasan syar’i, nggak berani megang tangannya. Dalam kasus tersebut boleh dipegang, karena darurat.

Ketika laki-laki dan perempuan saling berinteraksi, ada “sesuatu” yang “terjadi” dalam diri masing-masing. Bisa Abang jelaskan?

Kan ada yang namanya chemistry, sebuah proses kimiawi. Itu tidak hanya terjadi pada laki-laki dan perempuan, tapi setiap proses interaksi dan kedekatan itu melahirkan hubungan-hubungan kimiawi. Ketika berinteraksi, ketika mereka berdekatan, itu pasti terjadi sebuah interaksi kimiawi. Apalagi kalau berdekatan itu sampai pada tingkat seneng, saling menyukai, dan sebagai-sebagainya. Yang jelas itu sudah terjadi proses transfer, transfer energi, transfer perasaan dan sebagainya. Itu pasti merubah hal-hal tertentu.

Saya pernah mendengar sebuah teori yang mengatakan bahwa laki-laki otomatis akan memberatkan suaranya ketika bicara pada perempuan, dan begitu pula sebaliknya demi menyenangkan satu sama lain. Apakah ini merupakan hal yang sama dengan perubahan tadi?

Itu sesuatu yang naluriah sih, ya. Sebagai laki-laki sadar atau tidak sadar, dia akan lebih mengoptimalkan “performa” kelaki-lakiannya. Salah satu caranya adalah suaranya jadi berat, sementara si perempuan sebaliknya, kok suaranya jadi lembut? Kalau laki-laki biasanya yang dia olah itu suara. Sedangkan perempuan mengolah penampilannya. Karena ada kaidah “taklukkanlah seorang perempuan lewat telinganya, dan taklukanlah laki-laki lewat matanya.” Ini bukan mitos.

Saya pernah melakukan riset yang membuktikan perempuan itu kalau dirayu dengan kata-kata yang berbunga-bunga, padahal si cewek tahu itu cuman omong kosong, dirayu doang, tapi tetepseneng. “Gue tau lo gombal, tapi gue suka sama omongan lo.”

Memang mau nggak mau harus diakui, interaksi antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah itu memang sebuah interaksi yang satu sama lain make topeng. Nggak bisa disalahin, namanya juga ingin saling menarik perhatian. Itu naluriah. Makanya saya sering kali mengatakan pacaran itu tidak menjadi jaminan dua manusia saling kenal mengenal. “Begitu nikah, kok beda? Padahal kan pacaran udah 6 tahun, tapi begitu nikah kok beda banget ya antara kamu yang saya kenal sebelum nikah sama kamu yang saya kenal sesudah nikah?”

Hasrat tarik-menarik antara kedua lawan jenis yang begitu kuat ini, bahkan sampai ada orang yang dilabeli playboy atau playgirl, bagaimana penjelasannya dalam teori psikologi?

Kenapa terjadi fenomena playboy dan playgirl? Pertama tak tertahankan, tak terlampiaskan, dan sekarang itu begitu mudahnya sampai ada ungkapan yang saya cemas mudah-mudah nggak betul, “Nggak ada sih sekarang pacaran yang nggak pakai seks.” Itu yang saya takutkan.

Jadi memang kalau saya boleh bilang, candu paling berat di dunia itu candu seks. Seks itu potensi yang sudah ada dalam diri kita. Pada dasarnya ketertarikan laki-laki dan perempuan itu sejak kecil, 5 tahun sudah ada. Begini, sejak awal abad 20 lahir generasi baru. Namanya “remaja”. Jaman dulu remaja itu nggak ada, anak-anak langsung dewasa. Kenapa remaja itu muncul? Karena telah lahir generasi sudah baligh tapi belum akil. Padahal akil baligh itu harusnya satu paket. Dalam Islam nggak ada yang namanya remaja. Baligh, kedewasaan fisik, melahirkan nafsu. Akil, dewasa mental, melahirkan akal. Kita bisa bayangin kalau ada generasi secara fisik udah dewasa, tapi secara mental dia belum dewasa. Nafsunya menggebu-gebu, akal sebagai alat pengendali nafsu belum terbentuk dengan matang. Fenomena playboy, playgirl, awalnya itu dari situ.

Stimulasi-stimulasi yang Abang sebutkan tadi, kan, berasal dari dalam diri. Bagaimana dengan stimulasi dari luar?

Stimulan dari luar itu pasti banyak. Makanan saja bisa jadi stimulan. Misalnya, kita banyak makan protein hewani sangat berbeda dengan kalau kita banyak makan yang sifatnya nabati. Banyak-banyak makan protein hewani,  dorongan seksual jadi tinggi. Belum lagi stimulasi yang lain. Kalau cowok terutama stimulasinya dari mata. Perempuan stimulasinya sentuhan. Jadi kita kembali lagi ke hijab tadi. Islam sebenarnya memelihara itu.

Ada lagi stimulasi-stimulasi yang sifatnya kultural, budaya. Sekarang kita lihat orang ciuman itu biasa. Dari lingkungan, kita berteman dengan teman yang, “Kok dia main pegang-pegang aja? Kok dia main colek-colekan gampang aja?” Kan bagi kita juga ada satu perasaan, “Gimana ya rasanya dipegang? Gimana rasanya dicolek?”

Makanya perempuan lebih riskan pada stimulasi-stimulasi eksternal ini. Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya syahwat perempuan lebih besar dari syahwat laki-laki. Tapi Allah lindungi mereka dengan rasa malu.” Jadi perempuan secara seksual dorongannya memang lebih tinggi, tapi Allah hiasi mereka dengan rasa malu. Itu senjata yang paling bagus. Nah, yang repot kalau sekarang ini rasa malunya udah hilang. Waduh, tambah babak belur, deh. Sudah akilnya belum berkembang, rasa malu sebagai pengendali sudah nggak berkembang juga. Apalagi sekarang ada ajaran bahwa malu itu jelek.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tersenyum pada lawan jenis pun tidak boleh? Seperti apa kaidah yang sebenarnya harus dilaksanakan?

Begini ada hal-hal yang sifatnya perbedaan pendapat. Misalnya suara, suara adalah aurat. Ada yang mengatakan benar, ada yang mengatakan tidak. Kalau kayak berbicara dan sebagainya, di jaman Rasulullah, toh juga terjadi. Yang terpenting yang diajarkan oleh agama jangan menggunakan intonasi yang mendayu-dayu, merayu, dan sebagainya, yang membuat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda. Itu kan yang disebut dalam Alquran.

Jadi intinya bagaimana menggunakan itu semua secukupnya, seadanya, sekadarnya. Misalnya kita lagi ngobrol, nggak mungkin dong, ngobrol nggak tatapan mata. Sementara di jaman Rasulullah proses belajar itu tatap mata. Yang penting secukupnya, sekadarnya, sewajarnya, kan begitu. Karena dikatakan oleh Sayyidina Ali, “Pandangan pertama adalah rahmat, pandangan kedua adalah khianat.” Arti dari pandangan kedua itu adalah memandang sesuatu dengan tambahan yang niatnya udah busuk.

Rasulullah juga mengatakan dalam satu hadits. “Jika aku perintahkan sesuatu kepadamu, laksanakanlah semampumu.” Dalam pengertian, kita mencoba untuk menjaga harga diri kita, sejauh yang bisa kita lakukan. Kalau kita tidak bisa, ya kita mencoba untuk beristighfar. Yang penting kita menganggap yang benar tetap benar, yang salah tetap salah. Jangan kita melakukan hal yang salah tapi kita melakukan pembenaran terhadap hal itu.

oleh : Adriano Rusfi

(Quelle: kurniawangunadi)

Kembali kepada Tuhan

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan,

dia mencari sebab mengapa dia jatuh cinta

dan mencari cara untuk menyelamatkan cintanya

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan duduk manis memikirkan Tuhan,

merendah-rendah diri meminta kepada Tuhan

Lalu seolah-olah, hilanglah segala kegelisahannya 

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan

Setelah dan sejauh apapun dia mencari

pada akhirnya dia hanya bisa meminta

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tasikmalaya, 24 Ramadhan 1432 H | (c)kurniawangunadi

(Quelle: kurniawangunadi, via kurniawangunadi)