MASGUN

Apr. 20

Apr. 19

Hijab Itu Melindungi, bukan Mengasingkan

Tulisan ini sengaja saya copy-paste dari salmanitb.com dan artikel ini sempat beberapa waktu yang lalu saya posting di tumblr. Saya repost ulang karena kebermanfaatnya, semoga memberikan pemahaman yang baik.

Sumber asli tulisan : disini

Hukum hijab pada hubungan laki-laki dan perempuan diberlakukan karena alasan-alasan yang logis. Namun bukan berarti hijab membatasi dan memisahkan keduanya secara penuh.

Kata “hijab” seringkali digaungkan oleh banyak orang. Pada satu sisi ada yang beranggapan hijab merupakan suatu ketentuan Islam yang pasti positif. Namun ada pula yang beranggapan hijab menghambat aktivitas dan kegiatan-kegiatan yang bersifat profesional. Dalam hal ini, terutama hijab hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Berkaitan dengan masalah hijab, hukum hijab ditetapkan justru bukan untuk memisahkan keduanya. Laki-laki dan perempuan justru harusnya saling berinteraksi. Perbedaan-perbedaan dalam keduanya tercipta untuk saling mengisi. Hanya saja, harus ada kaidah moral yang menjaga.

Itu semua disampaikan oleh Adriano Rusfi, seorang konsultan pendidikan dan SDM, yang juga aktif sebagai pembicara di berbagai seminar.  Pria lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menyampaikan pendapat-pendapatnya soal hijab hubungan laki-laki dan perempuan kepada  Nadhira Rizki, pada Rabu (29/5) lalu. Dalam sesi wawancara di Masjid Salman tersebut, lelaki yang biasa disapa dengan sebutan Bang Ad juga mengkritisi pendapat bahwa hijab menghalangi dan membatasi. Padahal sebetulnya ada alasan-alasan logis di baliknya, baik dari sisi psikologi, fisiologi, dan terutama dari sisi Islami.

Apa sebenarnya yang “dilindungi” oleh hijab? Fenomena apa yang membuat hijab menjadi penting sekaligus menjadi bahan perdebatan banyak orang? Simak petikkan wawancara dengan beliau di bawah ini.

Menurut Abang, mengapa hukum hijab harus dipatuhi?

Jadi begini, dalam Islam hijab di mana-mana ada. Dalam hidup ini juga ada hijab yang mesti dijaga. Kenapa, karena antara laki-laki dan perempuan itu saling tariknya tinggi. Justru karena adanya tarik-menarik ini, di-manage secara baik lewat hijab. Kenapa? Karena tanpa ada proses hijab, gaya tarik-menarik tersebut bisa menyebabkan kerugian pada satu pihak. Kemungkinan besar biasanya perempuan, karena laki-laki punya kecenderungan untuk agresif. Misalnya, hubungan seks antara keduanya. Siapa yang kira-kira akan menjadi pemikul resiko terbesar bila terjadi kehamilan? Itu perempuan.

Kemudian, adanya hijab justru memelihara gaya tarik-menarik tadi. Misalnya mereka saling tertarik, terus nggak ada hijab. Dilepas aja, tarikan-tarikan itu. Nanti lama-lama mulai jenuh, mulai bosan, mulai tidak menarik lagi. Sama kayak magnet. Kalau magnet itu terus menerus dipertemukan, tarik-menarik, kan lama-lama gayanya sendiri berkurang.

Bagaimana pendapat Abang soal teori yang mengatakan bahwa hukum hijab membatasi sepenuhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan?

Dulu saya tahun 2003 pertama kali bergabung dengan salman, saya diminta untuk bikin outbond di daerah Cikole. Oke, saya akan bikin kelompok, campur laki-laki dan perempuan. Oh, tentu diprotes. Sampai panitianya sendiri deg-deg-an. “Aduh, Bang saya bisa diprotes sama orang.” Lho, saya bikin pengelompokkan, kegiatannya di hutan, kalau saya nggak campur laki-laki sama perempuan kalau perempuannya kemudian terjatuh, terseret arus sungai segala macem, ini gimana kalau nggak ada cowok dalam tim tersebut? Akhirnya saya jelaskan dalil-dalil dan seterusnya, akhirnya mereka paham. Walau awalnya cemas, dikritik keras dan semacamnya.

Saya memesankan satu hal waktu itu, temen-temen saat ini para mahasiswa hobi bener mengatakan “syar’i”. Padahal ada yang lebih tinggi dari syar’i, Islami. Karena syar’i itu hanya bagiannya saja. Jangan sampai gara-gara demi syar’i, kita menjadi tidak Islami. Apa contohnya? Ya contohnya tadi yang saya bilang. Ada akhwat mau jatoh, dengan alasan syar’i, nggak berani megang tangannya. Dalam kasus tersebut boleh dipegang, karena darurat.

Ketika laki-laki dan perempuan saling berinteraksi, ada “sesuatu” yang “terjadi” dalam diri masing-masing. Bisa Abang jelaskan?

Kan ada yang namanya chemistry, sebuah proses kimiawi. Itu tidak hanya terjadi pada laki-laki dan perempuan, tapi setiap proses interaksi dan kedekatan itu melahirkan hubungan-hubungan kimiawi. Ketika berinteraksi, ketika mereka berdekatan, itu pasti terjadi sebuah interaksi kimiawi. Apalagi kalau berdekatan itu sampai pada tingkat seneng, saling menyukai, dan sebagai-sebagainya. Yang jelas itu sudah terjadi proses transfer, transfer energi, transfer perasaan dan sebagainya. Itu pasti merubah hal-hal tertentu.

Saya pernah mendengar sebuah teori yang mengatakan bahwa laki-laki otomatis akan memberatkan suaranya ketika bicara pada perempuan, dan begitu pula sebaliknya demi menyenangkan satu sama lain. Apakah ini merupakan hal yang sama dengan perubahan tadi?

Itu sesuatu yang naluriah sih, ya. Sebagai laki-laki sadar atau tidak sadar, dia akan lebih mengoptimalkan “performa” kelaki-lakiannya. Salah satu caranya adalah suaranya jadi berat, sementara si perempuan sebaliknya, kok suaranya jadi lembut? Kalau laki-laki biasanya yang dia olah itu suara. Sedangkan perempuan mengolah penampilannya. Karena ada kaidah “taklukkanlah seorang perempuan lewat telinganya, dan taklukanlah laki-laki lewat matanya.” Ini bukan mitos.

Saya pernah melakukan riset yang membuktikan perempuan itu kalau dirayu dengan kata-kata yang berbunga-bunga, padahal si cewek tahu itu cuman omong kosong, dirayu doang, tapi tetepseneng. “Gue tau lo gombal, tapi gue suka sama omongan lo.”

Memang mau nggak mau harus diakui, interaksi antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah itu memang sebuah interaksi yang satu sama lain make topeng. Nggak bisa disalahin, namanya juga ingin saling menarik perhatian. Itu naluriah. Makanya saya sering kali mengatakan pacaran itu tidak menjadi jaminan dua manusia saling kenal mengenal. “Begitu nikah, kok beda? Padahal kan pacaran udah 6 tahun, tapi begitu nikah kok beda banget ya antara kamu yang saya kenal sebelum nikah sama kamu yang saya kenal sesudah nikah?”

Hasrat tarik-menarik antara kedua lawan jenis yang begitu kuat ini, bahkan sampai ada orang yang dilabeli playboy atau playgirl, bagaimana penjelasannya dalam teori psikologi?

Kenapa terjadi fenomena playboy dan playgirl? Pertama tak tertahankan, tak terlampiaskan, dan sekarang itu begitu mudahnya sampai ada ungkapan yang saya cemas mudah-mudah nggak betul, “Nggak ada sih sekarang pacaran yang nggak pakai seks.” Itu yang saya takutkan.

Jadi memang kalau saya boleh bilang, candu paling berat di dunia itu candu seks. Seks itu potensi yang sudah ada dalam diri kita. Pada dasarnya ketertarikan laki-laki dan perempuan itu sejak kecil, 5 tahun sudah ada. Begini, sejak awal abad 20 lahir generasi baru. Namanya “remaja”. Jaman dulu remaja itu nggak ada, anak-anak langsung dewasa. Kenapa remaja itu muncul? Karena telah lahir generasi sudah baligh tapi belum akil. Padahal akil baligh itu harusnya satu paket. Dalam Islam nggak ada yang namanya remaja. Baligh, kedewasaan fisik, melahirkan nafsu. Akil, dewasa mental, melahirkan akal. Kita bisa bayangin kalau ada generasi secara fisik udah dewasa, tapi secara mental dia belum dewasa. Nafsunya menggebu-gebu, akal sebagai alat pengendali nafsu belum terbentuk dengan matang. Fenomena playboy, playgirl, awalnya itu dari situ.

Stimulasi-stimulasi yang Abang sebutkan tadi, kan, berasal dari dalam diri. Bagaimana dengan stimulasi dari luar?

Stimulan dari luar itu pasti banyak. Makanan saja bisa jadi stimulan. Misalnya, kita banyak makan protein hewani sangat berbeda dengan kalau kita banyak makan yang sifatnya nabati. Banyak-banyak makan protein hewani,  dorongan seksual jadi tinggi. Belum lagi stimulasi yang lain. Kalau cowok terutama stimulasinya dari mata. Perempuan stimulasinya sentuhan. Jadi kita kembali lagi ke hijab tadi. Islam sebenarnya memelihara itu.

Ada lagi stimulasi-stimulasi yang sifatnya kultural, budaya. Sekarang kita lihat orang ciuman itu biasa. Dari lingkungan, kita berteman dengan teman yang, “Kok dia main pegang-pegang aja? Kok dia main colek-colekan gampang aja?” Kan bagi kita juga ada satu perasaan, “Gimana ya rasanya dipegang? Gimana rasanya dicolek?”

Makanya perempuan lebih riskan pada stimulasi-stimulasi eksternal ini. Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya syahwat perempuan lebih besar dari syahwat laki-laki. Tapi Allah lindungi mereka dengan rasa malu.” Jadi perempuan secara seksual dorongannya memang lebih tinggi, tapi Allah hiasi mereka dengan rasa malu. Itu senjata yang paling bagus. Nah, yang repot kalau sekarang ini rasa malunya udah hilang. Waduh, tambah babak belur, deh. Sudah akilnya belum berkembang, rasa malu sebagai pengendali sudah nggak berkembang juga. Apalagi sekarang ada ajaran bahwa malu itu jelek.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tersenyum pada lawan jenis pun tidak boleh? Seperti apa kaidah yang sebenarnya harus dilaksanakan?

Begini ada hal-hal yang sifatnya perbedaan pendapat. Misalnya suara, suara adalah aurat. Ada yang mengatakan benar, ada yang mengatakan tidak. Kalau kayak berbicara dan sebagainya, di jaman Rasulullah, toh juga terjadi. Yang terpenting yang diajarkan oleh agama jangan menggunakan intonasi yang mendayu-dayu, merayu, dan sebagainya, yang membuat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda. Itu kan yang disebut dalam Alquran.

Jadi intinya bagaimana menggunakan itu semua secukupnya, seadanya, sekadarnya. Misalnya kita lagi ngobrol, nggak mungkin dong, ngobrol nggak tatapan mata. Sementara di jaman Rasulullah proses belajar itu tatap mata. Yang penting secukupnya, sekadarnya, sewajarnya, kan begitu. Karena dikatakan oleh Sayyidina Ali, “Pandangan pertama adalah rahmat, pandangan kedua adalah khianat.” Arti dari pandangan kedua itu adalah memandang sesuatu dengan tambahan yang niatnya udah busuk.

Rasulullah juga mengatakan dalam satu hadits. “Jika aku perintahkan sesuatu kepadamu, laksanakanlah semampumu.” Dalam pengertian, kita mencoba untuk menjaga harga diri kita, sejauh yang bisa kita lakukan. Kalau kita tidak bisa, ya kita mencoba untuk beristighfar. Yang penting kita menganggap yang benar tetap benar, yang salah tetap salah. Jangan kita melakukan hal yang salah tapi kita melakukan pembenaran terhadap hal itu.

oleh : Adriano Rusfi

(Quelle: kurniawangunadi)

Kembali kepada Tuhan

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan,

dia mencari sebab mengapa dia jatuh cinta

dan mencari cara untuk menyelamatkan cintanya

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan duduk manis memikirkan Tuhan,

merendah-rendah diri meminta kepada Tuhan

Lalu seolah-olah, hilanglah segala kegelisahannya 

Pada akhirnya orang-orang yang jatuh cinta akan kembali kepada Tuhan

Setelah dan sejauh apapun dia mencari

pada akhirnya dia hanya bisa meminta

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tasikmalaya, 24 Ramadhan 1432 H | (c)kurniawangunadi

(Quelle: kurniawangunadi, via kurniawangunadi)

Tulisan : Kesempatan

Setiap orang yang lahir di dunia ini memiliki kesempatan yang berbeda, dalam banyak hal. Dan sungguh, sangat tidak bijaksana jika kita saling membandingkan dan mengukur kesempatan orang lain dengan kesempatan yang kita miliki.

Ada orang yang memiliki kesempatan sekolah di kampus besar, kampus terbaik di negeri ini. Sering bertemu dengan orang penting sekelas menteri atau seorang tokoh yang kemudian mengisi kuliah umum. Hingga pada akhirnya, bertemu dengan orang sekelas tersebut rasanya biasa-biasa saja. Sungguh, tidak bagi teman kita yang lain. Kesempatan seperti itu mungkin belum pernah dia temui. Dia tidak memiliki akses untuk itu, untuk bertemu dengan para tokoh penting di negeri ini. Sekalinya bertemu, perasaan bahagianya begitu meluap dan kita memandangnya begitu heran, terkesan ‘norak’. Sekali lagi, sungguh tidak bijaksana bila kita membandingkan kesempatan.

Ada orang yang memiliki kesempatan untuk sekolah di luar negeri. Di kampus terpilih dan gratis. Sempat berkeliling di negara-negara sekitarnya. Mungkin, kita adalah orang yang tidak memiliki kesempatan itu sebab keterbatasan kita. Entah itu akses, atau nilai akademis kita yang tidak memenuhi. Rasanya, begitu membanggakan bisa berfoto di padang salju atau di bangunan landmark negara-negara itu. Lalu, kita mulai membandingkan kesempatan yang kita miliki dengan mereka. Rasanya sedih sekali, saat itu sesungguhnya kita sedang tidak adil pada diri sendiri. Sungguh, di dunia ini kesempatan setiap orang tidaklah sama.

Apakah kesempatan itu bisa diciptakan? Atau ia datang tanpa kita tahu kapan datangnya. Aku sendiri tidak tahu. Hanya saja, semua hal mungkin terjadi sejauh manusia mau mengusahakannya.

Kesempatan yang kita miliki saat ini, lihatlah dengan lebih teliti. Apakah kita mengambilnya dan berperan baik di sana atau justru hanya melihat atau menyesali dan sibuk membandingkan dengan kesempatan orang lain. Atau jika kita sedang memiliki kesempatan besar lalu begitu rendah memandang orang lain yang tidak memiliki kesempatan sebaik kita.

Kesempatan dalam banyak hal, tidak hanya masalah sekolah. Tapi juga karir dan pekerjaan, teman yang luar biasa, jaringan yang luas, akses ke luar negeri yang mudah, apapun itu.

Semakin pandai kita menempatkan diri dalam hidup ini. Semakin pandai kita mensyukuri pemberian-Nya, maka Dia akan menambahkan nikmat yang lebih. Dan sungguh, kenikmatan yang menurut saya paling menyenangkan adalah ketenangan hati. Hilangnya resah dan kekhawatiran :)

Kita tidak perlu lagi khawatir pada kesempatan kita yang berbeda. Tidak lagi sibuk mengukur hidup sendiri dengan orang lain dan dibuat resah karenanya. Hidup kita adalah yang terbaik untuk kita. Kesempatan kita adalah kesempatan yang terbaik untuk kita.

Rumah, 19 April 2014 | (c)kurniawangunadi

Apr. 17

“Cara menasehati seseorang paling baik adalah ketika seseorang itu memang siap menerima nasehat itu. Menasehati saat seseorang sedang tidak siap menerima, itu sama seperti melakukan penghakiman kepadanya.” —

Juga ingat, nasihat terbaik disampaikan secara diam-diam kepada orang tersebut. Bukan di depan umum.

Ditambah, tidak perlu menjadi orang paling baik dan paling sempurna dulu untuk menjadi orang yang memberi nasehat. Bila orang harus baik dulu baru boleh memberi nasehat, niscaya tidak akan pernah ada nasehat di dunia ini.

Saling mengingatkanlah dengan cara yang baik :)

CeritaJika #46 : Jika Istrimu Seorang Mahasiswi Farmasi

Seringkali kau membayangkan bahwa istrimu adalah seseorang yang telah memiliki titel-gelar-atau profesi. Tapi pernahkah kau membayangkan bagaimana jika istrimu masih menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi? Pernahkah kau membayangkan bagaimana jika istrimu yang masih muda ini adalah mahasiswi jurusan Farmasi?

Jika istrimu seorang mahasiswi Farmasi, mungkin ia akan menjadi istri yang tiap harinya bergadang demi menyelesaikan tugas kuliah dan membuat laporan berbagai praktikum dengan deadline yang sangat ketat. Jangan heran jika kau mendapatinya dengan mata sayu, berkantung, dan terlihat lelah. Tapi percayalah, manakala kau terbangun dan mengajaknya mendirikan sholat malam di tengah ketidaksadarannya, mata sendunya akan berubah dan bercahaya, raut wajah lelahnya akan berubah menjadi rona berseri karena bahagia manakala engkau mengajaknya agar sadar waktu dan bermesraan dengan Sang Pencipta.

Mungkin istrimu akan sering pulang malam manakala ada beberapa praktikum yang menyita waktu. Saat kau meneleponnya, mungkin dia sedang di laboratorium demi bergulat dengan senyawa atau menaklukan formulasi obat. Jangan heran jika saat dia pulang kau tidak mendapatinya dalam keadaan harum, melainkan dengan bau senyawa-senyawa kimia laboratorium. Bisa jadi bau itu biasa saja, atau bahkan baunya menyengat yang menyebabkan engkau enggan mendekatinya. Jangan heran jika dia sangat teliti memperlakukan tikus. Bukan karena dia mencintai binatang yang bisa jadi kau jijik terhadapnya, semata-mata dia lakukan demi penelitian yang pada akhirnya ingin dia baktikan pada masyarakat. Jangan marah jika saat ia pulang kau dapati baju yang baru saja kau belikan dengan tabunganmu malah kotor dengan warna-warna tak jelas. Bisa jadi baju itu terkena perak nitrat, carmine, atau terkena ekstak saat dia di laboratorium bahan alam. Percayalah, dia sangat ingin berhati-hati dan sangat menyukai pemberianmu, tapi terkadang keteledorannya yang membuat ini semua. Jangan merasa jijik manakala wajahnya tiba-tiba berjerawat atau kulitnya memerah, ia tidak terkena kutukan, bisa jadi ia terkena paparan senyawa berbahaya ataupun terinfeksi bakteri saat ia di laboratorium mikrobiologi.

Jika istrimu mahasiswa farmasi, di tengah kesibukan kuliah, praktikum, laporan, dan mungkin tugas akhirnya – percayalah bahwa ia selalu mengingatmu. Dia tahu kewajibannya sebagai istri, memperlakukan tikus dengan baik jelas tidak lebih dia utamakan dibanding memperlakukan suami dengan baik. Meskipun ia sibuk dengan kesibukan yang mungkin belum kau mengerti, percayalah bahwa ia selalu memperdulikan dan mencintaimu. Jangan heran jika dia rewel memintamu menghabiskan antibiotik saat kau terinfeksi bakteri. Jangan heran jika ia akan mengatur pola makanmu berdasarkan golongan darah ataupun berdasarkan jenis risiko penyakit yang sedang atau mungkin akan kau derita. Perlu kau tahu, meskipun ia pandai meracik obat dengan takaran yang pas, tapi belum tentu ia dapat memasak dengan bumbu yang pas. Namun, ia akan terus belajar memasak demi melihat senyummu, dan melihat kau sehat bugar. Sesekali mungkin kau akan merasa kesal karena di malam hari, setelah menghabiskan makan malam ia akan melarangmu tidur langsung. Ia akan memintamu untuk bersama dengannya barang beberapa jam. Selain karena ingin mendengar kisahmu hari ini, ia ingin memastikan agar kau terhindar dari risiko diabetes. Pun jangan kesal manakala ia sesekali jahil menyembunyikan remote saat kalian menonton. Dia hanya ingin kau sedikit bergerak ke layar televisi untuk memindahkan saluran, sekali lagi percayalah bahwa ia melakukan ini demi kesehatanmu.

Jika istrimu mahasiswi farmasi, percayalah bahwa namamu akan tercantum di setiap kata pengantar tugasnya termasuk tugas akhirnya. Ia akan selalu memastikan kesehatanmu, menyediakan makanan sehat, dan menjadi dokter-perawat-apoteker-ahli gizi pertama bagimu. Jika istrimu mahasiswi farmasi, jangan heran jika saat ia membuka tabungannya dan ingin membelikan sesuatu untuk orangtuamu yang menjadi mertuanya. Ia akan membelikan buah-buahan atau nutrasetikal demi menjaga kesehatan orang-orang yang kau cintai. Jika istrimu mahasiswi farmasi, di tengah kesibukan praktikumnya yang menyita waktu, percayalah bahwa waktu yang paling ia cintai adalah beberapa jam yang ia habiskan bersamamu dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai istri. Meskipun istrimu kadang terlihat aneh karena sering berinteraksi dengan instrumentasi analisis ataupun dengan tikus. Percayalah bahwa saat ia lelah di laboratorium ia ingin kau juga ada di sana untuk memberi dukungan dan kekuatan baginya. Jangan heran jika sesekali ia akan memberikanmu kejutan dengan kalung obat-obat, buku catatan yang terlihat seperti buku resep, atau mungkin dia akan menjadikan namamu sebagai nama obat baru yang ia formulasikan.

 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

pengirim :

Dilla Wulan Ningrum

Mahasiswi Farmasi Universitas Padjadjaran

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

CeritaJika project : klik di sini

Akhirnya, setelah proyek menulis ceritaJika sempat berhenti beberapa hari karena kesibukan persiapan wisuda. CeritaJika dimulai lagi, terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengirimkan dan berbagi cerita-ceritanya. Selamat membaca dan berbagi :)

Apr. 16

Pertanyaan menarik : Sering orang berkata, laki-laki dilihat masa depannya, wanita dilihat masa lalunya, bagaimana menurut mas Gun?

Ini saya jawab :
Saya akan menjawab dengan pendapat pribadi, jadi ini subjektif ya :)Menurut saya, kalimat tersebut sangat picik dan cenderung menyudutkan perempuan. Saya laki-laki dan ketika membicarakan perempuan saya selalu berkaca bagaimana bila itu adalah ibu saya, saudara perempuan saya, atau istri dan anak-anak perempuan saya nantinya.Masa lalu itu dimiliki setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Sayangnya, manusia di jaman kita ini senang sekali membicarakan masa lalu sampai dibuat di program televisi sebagai infotainment (hiburan informasi). Saat informasi mengenai aib justru dijadikan bahan hiburan. Ya keadaan memang seperti itu kan sekarang.Kalimat pernyataan bahwa “Laki-laki dilihat dari masa depan dan perempuan dari masa lalu” seperti propaganda untuk menguntungkan laki-laki saja. Saya lebih suka melihat seseorang di masa sekarang dan visinya di masa depan lalu dilihat bagaimana dulu dia di masa lalu. Masa depan-sekarang-masa lalu adalah satu kesatuan. Berada dalam satu jiwa dalam satu individu dan jasad. Masing-masing memilikinya dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kecuali orang itu amnesia, tapi tetap saja orang lain akan menyimpan memori tentang masa lalunya itu.Perempuan, dengan segala penghormatan saya. Sebab ibu saya adalah seorang perempuan. Masa depan yang ada padanya jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di masa lalunya. Seburuk apapun masa lalu itu.
Bahkan Allah saja selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah dirinya menjadi baik. Memaafkan masa lalu yang mungkin penuh kesalahan.
Bila kita berada dalam posisi itu, dilihat dari masa lalunya. Apa kita mau? Coba tanya ke diri sendiri :)Kita semua diajarkan untuk berprasangka baik, kan? :)

Pertanyaan menarik : Sering orang berkata, laki-laki dilihat masa depannya, wanita dilihat masa lalunya, bagaimana menurut mas Gun?

Ini saya jawab :

Saya akan menjawab dengan pendapat pribadi, jadi ini subjektif ya :)

Menurut saya, kalimat tersebut sangat picik dan cenderung menyudutkan perempuan. Saya laki-laki dan ketika membicarakan perempuan saya selalu berkaca bagaimana bila itu adalah ibu saya, saudara perempuan saya, atau istri dan anak-anak perempuan saya nantinya.

Masa lalu itu dimiliki setiap orang, baik laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang salah dengan masa lalu. Sayangnya, manusia di jaman kita ini senang sekali membicarakan masa lalu sampai dibuat di program televisi sebagai infotainment (hiburan informasi). Saat informasi mengenai aib justru dijadikan bahan hiburan. Ya keadaan memang seperti itu kan sekarang.

Kalimat pernyataan bahwa “Laki-laki dilihat dari masa depan dan perempuan dari masa lalu” seperti propaganda untuk menguntungkan laki-laki saja. Saya lebih suka melihat seseorang di masa sekarang dan visinya di masa depan lalu dilihat bagaimana dulu dia di masa lalu. Masa depan-sekarang-masa lalu adalah satu kesatuan. Berada dalam satu jiwa dalam satu individu dan jasad. Masing-masing memilikinya dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kecuali orang itu amnesia, tapi tetap saja orang lain akan menyimpan memori tentang masa lalunya itu.

Perempuan, dengan segala penghormatan saya. Sebab ibu saya adalah seorang perempuan. Masa depan yang ada padanya jauh lebih penting daripada apa yang terjadi di masa lalunya. Seburuk apapun masa lalu itu.

Bahkan Allah saja selalu memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah dirinya menjadi baik. Memaafkan masa lalu yang mungkin penuh kesalahan.

Bila kita berada dalam posisi itu, dilihat dari masa lalunya. Apa kita mau? Coba tanya ke diri sendiri :)

Kita semua diajarkan untuk berprasangka baik, kan? :)

Cerpen : Kamu Baik, Masa Lalumu Tidak

"Perempuan lebih suka dengan laki-laki yang datang dan membicarakan masa depan, bukan masa lalu

Pagi itu, temanku yang berada jauh di tempat lain mengirimkan pesan pendeknya. Ponsel yang berdering dengan nomor telepon luar negeri. Ku kira dia tidak akan merespon pertanyaanku beberapa pekan lalu.

Aku merasa, setiap orang memiliki rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan (si)apapun, yang apabila rahasia itu dibuka. Maka, mungkin dia akan merasa hina di hadapan orang lain, merasa hilang harga dirinya. Pernah membaca roman Harimau karya Mochtar Lubis? Setidaknya, jika kamu pernah membacanya. Maka kamu akan paham benar kalimat tadi.

Aku merasa, tidak ada orang yang benar-benar memiliki masa lalu baik. Dan betapa bersyukurnya aku ketika teringat bahwa salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga, masa lalunya jauh lebih buruk daripada masa laluku. Setidaknya aku belum pernah membunuh orang.

Hari itu, kala aku tertarik pada seorang gadis dengan kerudung panjang. Aku selalu menarik diri, urung. Merasa tidak pernah pantas hendak menyandingnya, bahkan sekedar menyapa. Aku duduk di bangku panjang, merenungi masa laluku. Aku bukan laki-laki baik, setidaknya aku menilai diriku sendiri begitu.

Dulu aku pernah mencuri, sekali-dua kali masuk penjara. Pernah berzina dengan dalih suka sama suka ataupun sengaja mengujungi tempat tersebut. Kabar baiknya adalah aku sempat hendak mati. Hal inilah yang mengubahku, ketika aku merasa kematian begitu dekat. Aku baru menyadari seluruh kesalahanku.

Aku ingin berubah meskipun lingkungan lamaku berkata tidak mungkin. Sebab itulah aku merantau jauh di negeri ini untuk pergi jauh dari masa laluku. Nyatanya aku baru sadar, bahwa masa lalu bukanlah sesuatu yang bisa ditinggal. Sebab ia adalah bagian dari diriku sendiri, ada di dalam diriku. Aku tidak mungkin bisa meninggalkannya. Kata temanku, aku harus memaafkan diriku sendiri dan berdamai dengan masa itu.

Entah bagaimana rasanya, menjadi orang baik ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi orang jahat. Setidaknya aku pernah jahat, jadi aku tahu bagaimana rasanya.

Hari itu, aku mengetik pesan pendek ke teman baikku yang baru aku kenal beberapa bulan. Seorang psikolog handal yang mungkin punya indera keenam. Juga seroang bapak dari anak-anak yang ramai dan cerdas. Dia membacaku, bayangkan dia membaca apa yang sedang aku rasakan. Mungkin, jika dia hidup di jaman Majapahit, dia akan dianggap dukun berilmu tinggi.

Katanya menjelaskan dalam komunikasi internet;

"Setiap orang memiliki masa lalu, baik itu masa lalu yang baik atau buruk. Setiap hal di masa lalu tidak pernah ada yang bisa diubah, masa depanlah yang bisa diubah. Percayalah, di dunia ini hampir semua orang memakai topeng. Termasuk kamu, untungnya aku tidak mudah percaya dengan topengmu.

Dan kamu tau bagaimana rasanya berdamai dengan masa lalumu? Mungkin, sama perasaannya ketika kamu menceritakan dirimu sendiri dengan leluasa kemudian aku bisa menerimamu. Tidak hanya kamu sebagai jasad, tapi juga dengan masa lalumu. Kamu mengakui kesalahanmu itu sebuah langkah baik.

Dan percayalah, sekali kamu membuka topengmu kehadapan orang yang kamu cintai dan kamu percayai. Maka, bila dia benar menerimamu, dia akan membuka topengnya pula di hadapanmu. Sehingga kalian benar-benar akan saling mengenal dan memiliki ruang privasi yang lebih besar. Bukankah sangat sulit bagi kita untuk mengijinkan orang lain masuk ke dalam diri kita?

Jika kamu memang mencintai dia, maka ceritakanlah masa lalumu ini dengan lengkap. Di dunia ini banyak sekali orang baik dan orang yang bisa menerimamu. Percayalah. Aku tidak ingin  kamu membohongi dia. Dan bila ditengah perjalanan dia tahu siapa kamu sebenarnya, bisa jadi hal buruk terjadi. Lebih baik tahu sejak awal, kan?

Manusia seperti kita ini pandai sekali bersikap manis. Bersikap baik. Menyembunyikan diri dibalik jas berdasi dan baju koko. Menyembunyikan dosa dibalik kopiah dan gelang tasbih. Manusia selalu dilanda ketakutan, takut bila orang lain mengenalnya. Takut bila orang lain mengetahui aibnya. Hidup seperti itu sungguh memuakan bukan? Kamu sudah menjalaninya.

Bila benar perempuan itu baik. Dia akan melihat masa depan dan memaafkan keasalahmu. Sejauh kamu memang benar-benar beritikad baik. Di dunia ini, masih banyak orang baik. Sayangnya mereka ikut-ikutan bersembunyi. Kau bisa menemukan mereka, asal kamu pun menjadi baik. Jika kamu hanya berpura-pura baik, maka kamu akan bertemu dengan orang yang juga pura-pura baik. Tidak mau kan?

Sambungan internet itu terputus oleh suara Adzan.

"Kita lanjutkan besok, setelah kamu memantapkan keputusanmu. Semangat Bro :D"

Aku menutup layar ponsel. Setidaknya aku tahu, sejahat apapun aku. Allah masih berkenan memanggilku untuk menyembah-Nya. Artinya, dia masih memanggilku untuk Dia ampuni. Aku bergegas mengambil wudhu.

Bandung, 16 April 2014 | (c)kurniawangunadi

Apr. 14

[video]