KurniawanGunadi

Juli 26

Ramadhan #20 : Shalatmu

Bila seorang manusia telah shalat tapi dia tidak bisa memberikan manfaat apapun dalam kehidupan. Shalatnya tidak bermakna apa-apa. Shalatnya mungkin sekadar ritual saja, hilang makna, tanpa esensi, tidak mengerti tujuan.

Shalat seorang manusia dibuka dengan takbir. Sebuah pengakuan kebesaran-Nya. Seperti sebuah ucapan salam untuk mengetuk pintu rumah-Nya. Sebuah ucapan salam pertemuan dengan-Nya. Sepanjang shalat seorang manusia sedang bercengkerama dengan Tuhan-Nya. Duduk berdua dalam sebuah majelis ibadah. Berbicara sangat intim antara Sang Pencipta dengan hamba-Nya. Sebuah dialog pribadi, sebuah pertemuan pribadi.

Usai shalatnya, ditutup dengan salam. Salam kepada apa yang ada disekitarnya sambil menengok kanan dan kiri. Semoga keselamatan dan rahmat-Nya senantiasa dilimpahkan atas apapun yang ada di sekitarya. Usai shalatnya, seorang manusia diminta kembali ke masyarakat. Berbuat banyak, tidak hanya sibuk beribadah berlama-lama mengukur tasbih. Menghitam-hitamkan jidat. Usai shalatnya sorang manusai diminta memberikan kebaikan kepada masyarakat. Menjadi perantara Tuhan-Nya melakukan banyak hal kepada dunia ini.

Menjadi perantara nikmat-Nya kepada orang lain, membantu orang lain, menyelesaikan masalah, memperbaiki keadaan. Tidak hanya sibuk mengaji dan sibuk mengurus surga untuk diri sendiri.

Usai shalatnya, seorang manusia harus kembali ke masyarakat. Bila shalat hanya untuk sekedar melengkapi kewajiban, shalatnya tidak akan lagi bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Karena sudah terlalu banyak orang shalat tapi tidak seperti sedang bertemu Tuhan. Karena sudah terlalu banyak orang usai shalat tidak kembali ke masyarakat. Bagaimana dengan shalatmu?

Apakah kamu menjadi bermanfaat untuk orang-orang di sekitarmu?

26 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

Juli 25

Juli 24

[video]

Juli 23

Ramadhan #19 : Harus Mengalami

Tulisan ini adalah tulisan ramadhan 19/30 yang tertunda karena penulisnya difokuskan pada pekerjaan lain. Semoga tetap bermanfaat.

Hati kita kadang harus terluka. Agar kita tahu bagaimana rasanya dikhianati. Agar kita tidak mengkhianati. Hidup kita kadang harus hancur. Agar kita tahu bagaimana rasanya dicaci. Agar kita tidak ikut mencaci. Pikiran kita kadang harus jenuh. Agar kita tahu bagaimana rasanya dijauhi. Agar kita tidak menjauhi.

Seluruh cerita hidup kita kadang harus acak-acakan, harus banyak lubang, terluka di sana-sini. Agar kita tahu bagaimana rasanya dibenci, ditinggalkan, ditipu, diolok-olok, diasingkan, dibiarkan. Agar kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang merusak cerita hidup orang lain.

Seluruh cinta kita kadang harus hancur berantakan. Agar kita tahu bagaimana rasanya tidak berbalas, tahu bagaimana rasanya khawatir, menunggu, ditunggu, diburu waktu, dikhianati, bertepuk sebelah tangan, berharap, bersatu. Agar cinta kita menjadi lebih bijaksana, tidak gegabah dalam mengambil keputusannya.

Hidup kita kadang harus seperti itu. Hanya agar kita tahu bagaimana rasanya. Agar kita belajar dan menjadi lebih bijaksana.


Rumah, 23 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

Juli 22

Juli 20

Cerpen : Nyanyian untuk Perempuan di Balik Pagar yang Tinggi

Seorang perempuan duduk di balik pagar rumahnya. Berlindung dari setiap orang yang berlalu lalang. Mengunci pintu halamannya rapat. Ditutupinya setiap celah pagarnya dengan plastik-plastik gelap. Sehingga tidak ada mata yang bisa mengetahui dalamnya, tidak bisa mengintip isinya.

Perempuan itu sejak beberapa tahun yang lalu duduk setiap pagi hingga sore hari di teras rumahnya. Tetap terlindung dari pagar yang tinggi. Rumput di halaman rumahnya telah tinggi, tidak pernah disiangi. Pohon-pohon berbuah dan buahnya jatuh sebab tidak pernah dipetik.

Bagaimana aku tahu bila perempuan itu duduk di sana setiap hari? Itu rahasia.

Dulu pagar rumah ini tidak terkunci seperti ini. Aku masih bisa melihat apa yang ada di halaman rumahnya. Begitu rapi tertata, begitu memaksa perasaan orang yang lewat di depannya untuk singgah. Dan, tuan rumah yang begitu ramah.

Kabarnya, suatu hari ada seorang pencuri masuk ke dalam rumah ini. Mengambil sesuatu yang paling berharga yang dimiliki rumah ini. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dikembalikan, kecuali Tuhan melahirkannya kembali sebagai bayi. Sesuatu yang tidak mungkin dibeli. Kau tahu apakah sesuatu itu? Dari dengar-dengar bisik orang, sesuatu yang hilang itu adalah “kehormatan”. Aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh, kan?

Rumah itu kini terlindung dari setiap orang. Tuan rumah tidak lagi menerima tamu, siapapun. Setiap orang yang mengetuk pintu tidak lagi diterima. Sekalipun niatnya baik.

Meski pada satu sisi, sang tuan rumah berharap ada yang mau berkunjung. Seperti dulu. Beramah tamah di teras rumah. Bermain di halaman yang luas. Tapi harapan itu tidak lagi disertai kepercayaan. Kepercayaan itu telah menguap. Seperti embun-embun pagi yang kalah oleh sinar matahari.

Setiap hari aku duduk di luar pagar rumah itu, menenteng gitar dan bernyanyi. Duduk dari pagi hingga sore hari. Meski setiap orang yang berlalu lalang mengatakan aku gila, aku tidak peduli.

Kata mereka, “rumah ini tidak lagi memiliki kehormatan. Untuk apa di datangi?”

Aku hanya tersenyum. Enggan mendebat.

Aku kembali bernyanyi. Berharap tuan rumah terhibur dengan suaraku yang parau. Berharap sang tuan rumah penasaran, siapa yang setiap hari menyanyi di luar pagarnya. Berharap satu hari, gembok pagar itu berkarat dan patah. Atau pagar itu roboh tertimpa pohon. Atau alasan-alasan lain yang membuatku memiliki alasan untuk masuk ke halamannya. Atau, aku berharap sang tuan rumah mengintip dari celah pagarnya karena penasaran padaku.

Aku paham. “Kehormatan” rumah ini telah dicuri. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Mengapa setiap orang hanya menilai seperti itu. Bukan salah dia bila kehormatan itu hilang kan? Dia telah menjaganya. Tapi tetap saja di dunia ini banyak pencuri. Daripada sibuk berkhotbah tentang berbuat baik, berlindung dibalik jubah dan kopiah. Hanya berceramah di tempat-tempat suci. Cobalah terjun ke lembah-lembah dan berbicara di sana. Masalah yang terjadi sama sekali tidak akan selesai hanya dengan ceramah berjam-jam.

Aku kembali bernyanyi. Caraku menyampaikan segala sesuatu kepada sang pemilik rumah. Aku berusaha menyakinkan bahwa hidupnya ini berharga. Bahwa tetap ada orang baik yang bersedia bertamu, bahkan mungkin tinggal lama dan bersama di dalamnya. Memperbaiki rumahnya. Mempercantik halamannya. Berusaha meyakinkan sang perempuan yang setiap hari duduk di teras rumah itu bahwa akan selalu ada orang yang bisa menerimanya. Aku salah satunya.

Bagaimana aku tahu bila perempuan itu duduk di sana setiap hari?

Itu rahasia. Meski setiap orang mengira rumah ini kosong. Aku mengerti. Pemiliknya bersembunyi di balik pagar tinggi ini.Mungkin matanya menatap kosong. Pikirannya jatuh terpelanting. Tangannya mencabik-cabik dirinya sendiri. Menyalahkan Tuhan juga mungkin, tidak percaya pada-Nya, karena Dia begitu tega membebankan semua ini kepadanya.

Setiap manusia gila kehormatan. Aku ingin membuatmu percaya bahwa tidak semua orang seperti itu. Aku salah satunya. Bilamana kamu akan membuka pagar rumahmu?

Aku kembali bernyanyi.

Bandung, 20 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

[video]

Menyeimbangkanmu

Kamu berantakan dan aku terlalu rapi, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu tepat waktu sedang aku sering lupa waktu, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu cerdas dan aku biasa-biasa saja, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu pendiam lalu aku banyak bicara, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu suka membaca buku dan aku suka bernyanyi, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu sangat murah hati sementara aku pelit sekali, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu pandai mengaji dan aku biasa-biasa aja, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu pelupa sedangkan aku ingat setiap detil, bisakah kita menyeimbangkan?
Kamu menyukai petualangan sementara aku lebih suka bepergian yang aman, bisakah kita menyeimbangkan?

Kita tidak mesti sama dalam segala hal, kan? Kita bisa menyeimbangkan, kan?

Bandung, 20 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

(via michanmechon)

Ramadhan #18 : Tuhan Ingin Aku Masuk Surga

Tulisan ini adalah tulisan 18/30 selamat bulan ramadhan. Tulisan ini telat publish karena kesibukan penulis, semoga tetap bermanfaat.

[REPOST] Akhir-akhir ini aku berpikir tentang mati ketika menyaksikan ada teman seusiaku mati karena kecelakaan. Bertanya-tanya bagaimana jika aku mati muda. Siapakah yang akan kehilangan, sesedih apakah teman-teman. Akankah aku diingat-ingat kebaikannya (atau keburukannya). Aku ingin melihat semua itu. Tapi, aku masih takut mati.

Aku merasa, Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Dan aku justru enggan disuruh masuk surga. Bagaimana tidak, Dia memberi tahuku bagaimana cara masuk surga. Lalu, aku enggan menggunakan cara itu dan memilih untuk tidak masuk surga. Aku merenung beberapa hari ini sepajang perjalanan. Jika saja kereta yang aku naiki, motor yang aku kendari, atau bahkan ketika aku jalan kaki. Lalu sesuatu terjadi dan aku mati.

Apakah aku sempat bertanya-tanya lagi. Sedihkan orang yang aku tinggal mati, diingatkah aku, atau apapun itu. Sementara mungkin aku menyesali keputusan-keputusanku dalam hidup.

Aku merasa, Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Dan aku justru menolaknya. Aku melanggar hampir semua hal yang Dia perintahkan. Hal-hal yang menjadi syarat agar aku bisa masuk surganya. Aku justru memilih neraka dengan senang hati. Aku memikirkan ini sepanjang perjalanan. Dan jika aku mati di jalan. Adakah aku memiliki kesempatan beberapa detik saja untuk bertaubat?

Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Dia menempatkanku pada lingkungan yang kondusif, teman-teman yang berhasrat masuk surga. Dan aku justru menolak semua itu. Dia memberiku buku pegangan (kitab) untuk buka kembali disaat aku tersesat dan bertanya-tanya dalam hidup. Dia memberi tahu semua hal yang aku butuhkan agar aku masuk surga-Nya. Dan aku menolak semua itu secara terang-terangan. Aku menantang-Nya.

Aku mencuri. Aku berbohong. Aku sembarangan menggandeng tangan perempuan yang belum halal bagiku. Aku sembarangan makan. Aku menerima uang yang tidak halal. Aku menghabiskan harta dengan sia-sia. Aku mengkhianati kepercayaan. Aku tidak berbakti kepada orang tua. Aku sering meninggalkan shalat, ya atau shalat di akhir waktu. Aku mempertanyakan halal dan haram yang sudah jelas. Aku menghardik anak yatim piatu. Aku enggan bersedekah barang seribu rupiah. Aku hampir tidak pernah membaca kitab-Mu.

Aku merasa, Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga. Meskipun banyak hal sudah kuingkari, Dia masih memberiku waktu. Sayangnya aku tidak tahu sampai kapan waktu itu ada. Aku merasa Tuhan benar-benar menginginkanku masuk surga dan aku menolaknya. Menolaknya dengan terus menerus membuatnya murka. Dengan terus menerus mempertanyakan ada atau tidaknya Dia. Dengan menyombongkan diri tidak berdoa dan memohon kepada-Nya. Dengan melanggar hal-hal yang jelas-jelas dilarang-Nya.  Jika aku mati, aku mungkin tidak sempat lagi memikirkan siapa yang akan mengisi kematianku, aku menangisi diriku sendiri.

Tuhan menginginkan aku masuk surga-Nya dan aku menolaknya.

22 Ramadhan 1435 H | (c)kurniawangunadi

Tulisan asli pernah dimuat di sini.