MASGUN KURNIAWAN GUNADI

23 | Writer and Designer | Muslim | Indonesian | ENTJ | Pencerita di Suaracerita | Forum Indonesia Muda #16 | Penulis Hujan Matahari

Bachelor of Industrial Design 2009, Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung

Bandung, West Java | Indonesia
  • kurniawangunadi published a text post 2 years ago
    Cerpen #16 : Anak-anak kecil dan ceritanya

    Rumahku adalah rumah idaman bagi seluruh teman-temanku yang tinggal di kota besar , bukan rumah megah atau villa diujung gunung tanpa tetangga , melainkan sebuah rumah di desa dengan luas halaman yang 3x luas rumah , dan depan rumah yang tanpa batas adalah sawah yang luas , kali yang masih jernih tak jauh dari rumah , dan pemandangan gunung Sumbing dan Sindoro .

    Paling indah adalah ketika pagi hari , kita bisa melihat matahari terbit dari balik pegunungan Menoreh , pegunungan yang membatasi kotaku dengan provinsi Jogjakarta Hadiningrat , matahari terbit , hal yang tak pernah dilihat oleh orang-orang kota yang malang.

    Mereka hanya tahu hari sudah pagi , dan melihat matahri ketika tengah hari , tidak pernah mereka benar-benar melihat matahari itu terbit dan tenggelam , mata mereka terbentur tembok tembok dan beton , waktu mereka habis di jalan .

    Dulu ketika saya kecil , rumah saya adalah rumah yang sederhana , rumah tanpa tembok semen dan lantai yang masih tanah . Batu bata tidak rapi terlihat jelas , usuk dan tiang-tiang penyangga atap masih jelas , terbuat dari bahan kayu dan bambu.

    Tentu saja rumah itu belu memiliki asbes untuk menutup langit2 rumah , cahaya matahari dan air hujan selalu masih bisa masuk melalui celah-celah genting.

    Listrik waktu itu belum ada , itu sekitar tahun 1994 , listrik baru masuk di pertengahan tahun 1995 waktu itu . Setiap sore , tugas saya adalah menyalakan lampu minyak yang berjumlah 9 biji . Setiap sore .

    Malam malam tidak ada hiasan televisi , kami tidak memilikinya , kan belum ada listrik , benda termewah di rumah ini adalah Motor Yamaha Super Deluxe warna merah yang dipakai oleh ibu untuk pergi ke SD mengajar di kecamatan sebelah , ayah ? ayah naik sepeda jengki nya - yang katanya , dulu dibuat jalan jalan sama ibu - ke SD yang hanya 5 menit dari rumah.

    Aku dan anak-anak tetangga selalu diluar rumah setiap malam , sepulang mengaji , kami bermain diluar , mata kami lebih awas dahulu , kami bisa berlari tanpa terjatuh di malam hari  , sinar rembulan jauh lebih terang dari lampu 100watt , kami bisa melihat dengan jelas

    Kunang kunang , belalang , kodok , dan jangkrik adalah musik yang menemani kami setiap malam , selain radio tua milik eyang merk National yang masih bagus.

    Lampu-lampu minyak itu akan padam sekitar pukul 10 malam , ayah yang biasa memadamkannya sebelum kami semua tidur.

    Barangkali , aku selalu merasa adalah anak yang paling beruntung , bukan karena kekayaan harta orang tua yang bisa membelikan saya mobil untuk kuliah di Bandung , tapi karena saya merasa memiliki masa kecil yang lengkap, merasakan hidup di desa tanpa listrik , berlari 4 km ke desa tetangga yang sudah ada listrik hanya untuk menonton Kesatria Baja Hitam RX jam 3 sore , bermain petak umpet di malam hari , mengaji di rumah tentangga hanya bermodal kitab lusuh turun temurun , menikmati bagaimana rasanya menjadi petani di sawah , ah iya dulu ketika kecil saya sering diajak ke sawah untuk mencangkul , menyiangi rumput2 , menanam bibit , dan sebagainya.

    Dan satu hal yang harus kalian tahu adalah betapa nikmatnya makan di tengah sawah setelah bekerja , tidak ada satupun restoran di bandung yang bisa mengalahkan kenikmatannya , meski makannanya adalah nasi-sepotong tempe-dan sayur kangkung. Karena saya pernah merasakannya, makan ditengah sawah setelah mencangkul , cukup cuci tangan di air kali yang mengalir.

    Selesai di sawah saya selalu diajak ke sungai yang jernih , mandi sana , saya paling suka mandi disana . . jarak sungai dan sawah milik ayah hanya sepelemparan batu.

    Setiap musim hujan , sawah di depan rumah berarti menjadi lapangan sepak bola, ada sepetah sawah di depan rumah yang luas sekali , kami sering hujan-hujannan , membawa bola dan bermain sepak bola di tengah sawah , tentu saja sulit sekali untuk berlari , terjatuh berkali-kali , kotor itu pasti , tapi kami tidak peduli.

    Itu adalah masa kecil yang tidak bisa dinikmati oleh anak-anak yang tinggal di kota besar bukan ?

    Dulu setiap malam , saya bermain bayangan tangan dengan ibu , membentuk aneka hewan di tembok dengan tangan , bayangan yang diciptakan oleh lampu minyak yang kadang redup itu.

    Rumah kami juga menjadi rumah yang menarik untuk ular dan hewan melata lainnya , dulu seringkali rumah saya dimasuki ular , bukan apa-apa , sekitar rumah adalah perkebunan dengan pohon-pohon lebat yang menempel dengan rumah , sarang yang nyaman untuk ular-ular , pun kadang tidak tanggung tanggung ular yang masuk bisa sebesar lengan , itu tidak bahaya , yang bahasa adalah ular hijau dengan kepala segitiga yang besarnya cuma sebesar jari kelingking tapi panjangnya sampe satu meter , dulu kami menyebutnya ulo gadung ( ulo = jawa = artinya ular )

    Beberapa ular mengalami nasib tragis ketika masuk rumah saya. Satu hal yang menarik lagi adalah sawah , sawah adalah rumah bagi para ikan dan jangkrik ,dulu jika ada air yang melimpah di sawah dan kali  , sepulang sekolah saya langsung pergi ke sawah , mencari ikan tentu saja , atau mencari jangkrik , bukan untuk dijual , pilihannya hanya dua , dipelihara atau dimakan , selesai.

    Sayangnya setiap kali saya pulang ke rumah sekarang , sawah hampir tidak ada ikannya , itu semua karena sekarang petani memaki obat-obatnya yang katanya penyubur tanaman , bodoh sekali dan betapa jahatnya orang-orang pintar yang membodohi masyarakat , ikan-ikan itu teracuni , itu jelas .

    Ekosistem sekarang tidak seimbang , parit-parit rumah semakin sepi ikannya , saya sedih bagamana membayangkan nasib masa kecil anak-anak saya kelak.

    Akankah saya bawa ke dalam lindungan hutan kalimantan , dan pelosok nusa tenggara agar mereka bisa belajar kearifan alam dan mencintai alam. Agar mereka merasakan bahwa rumah mereka bukan sekedar kamar dan tembok semen , tapi juga sawah , lautan , sungai sungai , dan tanaman tanaman dan hewan hewan , mereka adalah teman , bagaimana anak saya bisa mencintai mereka jika tidak sejak kecil

    Lucu sekali adalah ketika orang-orang kota itu meneriakkan perlindungan terhadap lingkungan , tapi mereka sama saja sampahnya dengan sampah yang mereka buang setiap hari. Saya telah melihat perubahan desa saya sejak saya mengerti alam sekitar , selama 20 tahun , dan sungguh saya merindukan alam desa saya ketika kecil .

    Sungai sungai itu dalam , dengan air jernih , dengan biawak , dengan ikan-ikannya yang tiada habisnya . Sawah sawah itu subur dengan ikan-ikannya yang melimpah , dengan padinya yang besar , sawah yang selalu menjadi lapangan untuk bermain layang-layang ketika kemarau , dan lapangan sepak bola ketika musim hujan , kami berlari lari menaikan layang layang setinggi mungkin , dan membuat layang layang dengan ekor sepanjang mungkin , itulah kebanggan kami ketika kecil , bukan bangga membawa hp ataupun memiliki Blackberry.

    Kami memiliki masa kecil yang terlalu lengkap , masa kecil yang tidak dimiliki oleh anak-anak di kota besar , yang hidupnya sudah menjumpai kemacetan jalan sejak dalam kandungan . Hal yang paling saya syukuri adalah saya memili cerita yang tidak habis habis jika dituliskan seperti ini

    Setiap jengkal tempat di desa saya , saya memiliki ceritanya , ah iya rel kereta pun juga memilik cerita , lain kali saya ceritakan , stasiun tua di desa tetangga juga bercerita , sekolah TK saya yang sekarang hampir roboh pun memiliki ceritanya , sudut masjid , suduk kantor desa , sawah di ujung desa , kuburan desa , semua memiliki ceritanya

    bahkan setiap jengkal rumah dan halaman milik teman-teman saya memiliki ceritanya , dimana kita dulu sering bermain bersama.

    Saya rindu masa kecil , semakin sedihnya melihat anak-anak kecil yang tidak memiliki masa kecil yang baik , di jalan sempit gang gang kota besar , Bandung .

    Anak kecil yang secara keras , menghardik temannya dengan kata “ANJING” dan “GOBLOG” , umpatan yang disuburkan oleh orang tua mereka disini , anak-anak yang merengek minta uang untuk membeli jajan , dan anak-anak yang berkumpul tapi sibuk bermain dengan HP masing-masing

    Anak-anak yang tidak pernah tau bagaimana caranya membuat ketupat , bagaimana caranya mencari ikan disawah , bagaimana caranya memasak belalang , bagaiman itu bermain gambar dan karet gelang , tidak pernah bermain dengan batu dan pecahan genting serta daun-daun yang berubah menjadi uang.

    Anak anak yang tidak memiliki cerita kearifan dari dongeng-dongeng sebelum tidur , mereka ribut bermain facebook dan saling jatuh cinta di usia yang tidak seharusnya. Anak anak SD sibuk berias untuk mencari perhatian teman SD nya yang lain . Sementara diujung gang sana , anak-anak SD dengan pakaian trendy , topi dimiringkan , dan satu batang rokok menyala , seolah-olah mereka adalah orang terkeren di dunia ini , sibuk menata-nata gaya .

    Kota Kembang yang tidak memiliki taman bunga dan taman bermain

    sebuah cerita untuk mengingat masa kecil dan mensyukurinya … .


    Bandung , 1 Desember 2011

    Kurniawan Gunadi



    Show the 18 notes
    1. tyastrinikirana reblogged this from ayojadilebihbaik
    2. ayojadilebihbaik reblogged this from kurniawangunadi
    3. hanakochan reblogged this from kurniawangunadi
    4. rafikahasna said: aku juga anak desa, buka pintu depan langsung lihat sawah, buka pintu belakang masih sawah juga. Tapi Madiun dataran rendah, jadi gunung cuma tampak dari jauh, yang paling super adalah bintang dan bulannya di malam hari!
    5. superzupper said: ehh, mirip banget waktu aku kecil dirumah simbah ==a
    6. kayla80 reblogged this from kurniawangunadi
    7. ragilliarach said: aduh saya jadi inget masa kecil saya dulu…yah emang tidak seperti di darah kamu gun, tapi saya masih ingat berlomba-lomba dgn teman memanjat pohon, main perang2an, layang2an, petak umpet, main ketabel, hahah dan yang lainnya :)
    8. linggaaa said: gunung sumbing dan sindoro?hmm..klo saya dilahirkan di kaki gunung sumbing lho,selalu menyenangkan ketika bisa menghabiskan liburan disana :D
    9. kurniawangunadi posted this