saya kira dulu semua dari kita , yang lahir di abad-abad pertengahan , maksudnya sekitar tahun 90-an , memiliki kamera seperti ini sudahlah sangat luar biasa , setara SLR jaman sekarang mungkin , filmnya yang hanya terbatas di 20-an dan 36 film membuat kita sangat hati-hati dalam pengambilan objek gambar. Tidak ada yang namanya asal jepret . Tanpa tahu langsung seperti apa hasilnya , menunggu hasil cuci cetak adalah hal-hal yang mendebarkan. Ketika hasil fotonya luar biasa , kita akan dengan sangat bahagia memperlihatkan ke seluruh teman-teman kita yang berada di dalam foto itu.
Kamera Film menjadi barang yang amat kuno rasanya sekarang ini , tapi sensasi memfoto dengan film memang tiada duanya , ini adalah kamera yang saya miliki sejak kelas 6 SD , saya bawa ke bandung , rotor untuk menggulung film agak rewel , tapi secara keseluruhan masih oke :)
Anak-anak sekarang ini tidak tahu mungkin ada kamera beginian, anak-anak sekarang disediakan serba instan , sekali jepret langsung kelihatan di layar LCD kamera , dulu kita butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menunggu momen yang baik untuk mengambil gambar
Album foto di rumah-rumah sampai beberapa buku , sekarang album foto sudah menjadi barang tak berguna mungkin , lebih baik disimpan di memori card daripada di cetak , itulah , sekarang hampir semua gambar tidak ada yang penting
Berbeda dengan hasil foto jaman dulu , semua gambar di cetak karena semuanya itu PENTING dan memiliki kesan yang amat dalam ketika dulu mengambilnya , ada jutaan cerita yang terjadi dalam 1 buah foto
Sekarang ini , orang berbondong-bondong membeli kamera Digital SLR , tenteng kesana-kemari bak fotografer profesional , padahal fotografer beneran aja gak gitu-gitu amat. Membidik aneka gambar , hampir semua gambar kehilangan kesan. Itulah budaya konsumtif , ketika status seseorang divisualisasikan dengan sebuah kepemilikan terhadap sesuatu.
Bandung , 16 Februari 2012
