Cerpen : Cerita Aliya

Aku masih tidak percaya pada hari ini , aku masih duduk di depan meja kecil dengan kaca besar , menatap tidak percaya pada diri sendiri dan pada apa yang telah aku lakukan. Disamping ku terletak baju nan indah untuk hari ini, ini hari istimewa , pernikahanku.

Aku masih tidak percaya dengan keputusanku tempo tempo hari , aku tidak percaya akan secepat ini. Ketika datang seorang laki-laki yang secara tiba-tiba dan tidak aku kenal,bertemu dengan ayahku.

Siapa dia ?

Aku masih duduk di depan meja kecil dengan kaca besar , menepuk nepuk pipi , bertanya apakah ini mimpi.

Aku menangis , tapi tidak tahu menangis karena apa , siapa yang aku tangisi , mungkin diriku sendiri.

Ayah dengan berpakaian rapi , telah siap , masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu , ah ayah memang tidak pernah mengetuk pintu. Pintu hati ibu saja tidak diketuk, “percuma” kata ayah dulu, kudu naik dari atap atau jendela , baru bisa masuk .

“Loh kok belum ngapa-ngapain”, tanya ayah dari ujung pintu

Aku tidak menjawab , masih menangis tanpa suara , aku tertunduk. Ayah masuk perlahan dan memang pundakku , aku menatap cermin , ayah masih terlihat muda , terlihat lebih bijaksana dari beberapa tahun yang lalu sewaktu saya masih anak-anak.Ayah tidak pernah bertanya kenapa aku menangis , hanya tersenyum.

“Ayah”,kataku sambil menangis.

“Aliya takut”, kataku gugup. Ayah justru tersenyum. Benar-benar tidak pengertian.

“Apa yang kamu takutkan ?”

Aku berbalik dan memeluk ayah sambil menangis, tetap masih tidak mengerti , menangis karena apa

Aku takut tidak pantas menjadi istrinya , dia terlalu baik”, jawabku sekenannya tapi membuatku tiba-tiba berpikir,aku takut akan hal itu , sebuah hal yang tidak pernah aku pikirkan selama ini.

Menjadi remaja pada umumnya , gadis remaja yang suka jalan-jalan dan nongkrong dengan teman-teman. Tiba-tiba dalam usia yang terbilang muda ini , secara tiba-tiba di khitbah oleh seseorang , dan entah karena apa aku menerimanya dengan yakin. Aku memutar memori , semua sangat cepat . Terlalu cepat bahkan. Aku tidak menyadarinya , kini aku ketakutan. Aku yang tidak pernah memikirkan diri sendiri , harus menjadi baik untuk mencari laki-laki yang baik. Tiba-tiba datang laki-laki baik dan hatiku digerakkan oleh sesuatu yang tidak terlihat untuk menerimanya , tanpa keraguan.

“Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Ayah tahu kamu bahagia disisi yang lain mendapatkan laki-laki sebaik dia, Ayah tahu”

Ya ayah memang sok tahu , tapi itu memang benar. Aku mulai reda.

“Aliya … “

Belum selesai aku mengatakan sesuatu , ayah menyetuh pipiku dengan lembut, meski tangannya kasar karena bekerja di bengkel setiap hari , tapi kelembutannya sangat terasa.

“Mungkin ini terakhir kalinya ayah menyentuh pipimu dan menyeka air matamu saat nangis begini Nak, percayalah keputusanmu sudah yang terbaik, bukankah ayah dan ibu tidak pernah memaksamu menerimanya . Tapi Allahlah yang menggerakan hatimu untuk menerimanya”

Aku mulai bisa tersenyum.

“Kau memang sama seperti ibumu , pintu hatimu itu tidak cukup kalau cuma diketuk, masuknya musti lewat jendela atau ngebongkar atap rumah”

Aku memukul dada ayah , mungkin juga untuk terakhir kalinya , kami tertawa.

Aku duduk kembali di meja rias , tidak ada dandanan menor sana-sini, sebuah gaun muslimah lengkap dan sangat cantik . Ayah duduk disamping menemaniku berias , mungkin juga untuk terakhir kalinya.

Ayah senyam senyum sendirian , mungkin teringat masa mudanya.

“Kau percaya Nak , kadang apa yang kita dapatkan ini , selama ini , diperoleh dari doa orang-orang yang menyayangi kita , yang secara tulus mendoakan kita hingga Allah sampai tidak tega untuk tidak mengabulkannya?”

Aku mengangkat alis , meminta penjelasan.

“Jangan-jangan ini juga hasil doa ibumu waktu di Makkah , waktu haji kemarin ,katanya dia sudah ingin punya momongan”

“Ayaaaahhh !!!”

Aku melempar bantal disampingku , ayah tertawa sambil berlari kecil keluar kamar.

Aku tersenyum .