Cerpen #38 : Kata Pengantar
Waktu aku menulis buku ini , sebenarnya aku tidak ingin membahas tentang masalah cinta dan romantismenya , terlalu banyak dan sering buku yang membahasnya.
Tapi jangan salahkan , kamu lihat di lembar berikutnya , orang yang bertanggung jawab atas banyak tulisan dalam buku ini menjadi seperti ini.Dia begitu baik hati menemaniku tiap malam bersama “Luna” , laptop ku sejak masa sekolah dulu.
Menyeduhkan secangkir teh hijau atau sekedar mengingatkan bahwa hari sudah pagi. Dia yang selalu mengajakku ngobrol ini itu ketika aku menulis .
Dia tidak pernah menganggu konsentrasiku , justru ketiadaannya membuatku tidak bisa konsentrasi menulis.
Buku ini sebenarnya ingin aku buat untuk menuliskan cerita kehidupan yang arif , tapi tidak ada satu kearifanpun yang tidak disertai dengan perasaan cinta kasih manusia.
Kamu sedang membaca sebuah kisah yang seharusnya bisa kamu alami sendiri, sayangnya tidak semua orang di muka bumi ini mau bersusah payah belajar sendiri dari setiap hal di kehidupannya.
Maunya mudah , dikasih tau , ya salah satunya buku ini , berusaha memberi tahumu bahwa ada banyak hal yang sering kita lewatkan begitu saja dalam hidup ini.
Sama hal nya ketika dulu aku bertemu dengan orang yang selalu menemaniku menulis ini , ketika itu hujan tiba-tiba datang , seolah-olah telah sekian ribu tahun menunggu hari itu , bersekongkol dengan bumi , untuk mempertemukan ku dengan seseorang.
Dia yang ketika aku menuliskan ini sedang sibuk di belakangku bercerita tentang masa kecilnya di desanya dulu. Aku mendengarkannya meski tidak memberi tanggapan , dan dia tau aku selalu mendengarkannya , itu lebih dari cukup.
Seandainya dulu aku melewatkan hari itu dengan tidak memutuskan untuk shalat zuhur di masjid , mungkin pertemuan itu tidak akan terjadi. Dan malam ini mungkin aku sendirian atau bersama perempuan lain. ( eits , aku mendapatkan cubitan keras sekali ketika menulis itu , aku bersikeras tidak menghapusnya , haha …)
Setiap detil cerita dalam hidup kita ini sebenarnya telah dirancang untuk kita mendapatkan perlajaran dan bisa memaknainya setiap paragraf. Cerita yang oleh Tuhan ditulis sendiri dengan baik dan bahasa paling indah.
Sayangnya kita enggan belajar cara Tuhan berkisah , lebih sering kita menghujat , sama hal nya ketika kamu membaca buku ini , banyak kisah yang akan berbeda makna.
Seandainya setiap hal di dunia ini bisa bicara , aku harus berterima kasih kepada siapa lagi setelah kepada Tuhan.
Kepada seorang cantik yang rela mengurangi waktu tidurnya hanya sekedar menemaniku duduk atau kemudian tertidur di pundaku gara-gara kelelahan menungguku menulis.
Ah itu hanya sepersekian kebahagiaan yang telah dirancang dalam setiap cerita hidup kita , asal kita tidak pernah melewatkan setiap momen dengan sia-sia.
Akan ada banyak kemungkinan , masa depanmu lebih bermakna karena hari ini terlewati dengan baik. Hari ini yang akan menjadi masa lalu di kemudian hari.
Terima Kasih,
Nangroe Aceh , 3 Agustus 2017
12 Notes/ Hide
-
von milluviaprincessa als Favorit markiert
-
ranselku-bawa-aku-pergi hat diesen Eintrag von rufisa gerebloggt
-
von sehangatpelukan als Favorit markiert
-
von tazymaniandevil als Favorit markiert
-
von dikaherayanti als Favorit markiert
-
von hypernemesis als Favorit markiert
-
von egopena als Favorit markiert
-
von ardfsaa als Favorit markiert
-
von alien-aspergens als Favorit markiert
-
annisaadejanira hat gesagt:
cecieeeeeeeeehh uhuk, kode ya masgun :pp
-
cundaningsih hat gesagt:
haa? 3 Agustus 2017? ngga salah kak? haha
-
von kurniawangunadi gepostet
