MASGUN KURNIAWAN GUNADI

23 | Writer and Designer | Muslim | Indonesian | ENTJ | Pencerita di Suaracerita | Forum Indonesia Muda #16 | Penulis Hujan Matahari

Bachelor of Industrial Design 2009, Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung

Bandung, West Java | Indonesia
  • Posts tagged "ALL RIGHTS RESERVED"
  • kurniawangunadi published a text post 1 week ago
    Suatu Hari Nanti

    Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana pikirannya untuk kamu ajak bicara.

    Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mempertahankan seseorang, tetap jadilah diri sendiri. Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila ia memang tidak mampu menerimanya. Karena yang baik belum tentu tepat.

    Orang baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat. Selebihnya hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya  menjaga orang yang paling berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang sangat berharga buatmu nantinya.

    Suatu hari akan ada orang yang cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu menerimamu yang juga serba cukup.

    Bandung, 9 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 1101 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 week ago
    Apa yang Tidak Sempat Dibahasakan oleh Suara.

    Kita bisa melihat kebohongan dari suara, bisa melihat tipu dayanya. Tapi tidak pada mata. Sebuah pancaran mata sulit menyembunyikan kebenaran.

    Seandainya mata bisa berbicara hari ini. Aku akan mendengar darimu bahwa kamu sedang resah hatinya, diselimuti kekhawatiran tentang masa depan. Kamu berbicara tidak ada yang perlu dikhawatirkan, matamu menunjukkan ketakutan. Warna suaramu begitu tenang, matamu menunjukkan kekosongan.

    Suatu hari mata kita bertemu, kamu tertunduk. Aku malu. Kamu takut menatap mata orang lain karena takut mereka tahu apa yang kamu sembunyikan.

    Bandung, 9 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 302 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 week ago
    Tulisan : Apa yang Bisa Kita Petik dari Luka

    Kita akan terus belajar setiap hari tentang hidup kita bila kita bertemu dengan masalah. Karena masalah hadir memang untuk menguji seberapa jauh hati kita cukup sabar, pikiran kita cukup jernih, iman kita cukup kukuh.

    Kita akan belajar tentang rasa sakit pada hati, merasakan semua bentuk emosi, memahami semua masalah dari sudut pandang yang berbeda. Agar diri kita menjadi kaya akan pembelajaran. Agar diri kita menjadi kaya akan emosi, agar kita tahu bagaimana rasanya.

    Bila kelak kita menjadi orang tua dan anak-anak kita membutuhkan nasihat. Kita bisa memberikan nasihat terbaik dan bijaksana, karena kita pernah mengalami hal serupa di masa muda.

    Lebih baik kita menangis hari ini. Lebih baik kita terluka hari ini. Karena itu akan lebih banyak mengajarkan kita tentang hidup. Karena masalah akan mendekatkan kita kepada Tuhan. Membuat kita ingat bahwa kemampuan kita terbatas, selebihnya adalah pertolongan Tuhan.

    Kita akan terus belajar, tentang hidup ini. Melalui segala bentuk luka, patah hati, disakiti, ditinggalkan, dikhianati, dibenci, dijauhi, dan segala bentuk emosi yang menurut kita buruk. Padahal justru kita tahu mutiara terbaik ada di dasar lautan, berlian terbaik terkubur di dalam tanah, sesuatu yang terbaik akan lahir dari tempat-tempat yang kita jauhi.

    Bukankah selama ini kita menjauhi masalah, menjauhi luka, takut mengambil resiko, takut sakit hati, segala macam ketakutan.

    Bandung, 8 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 479 notes
  • kurniawangunadi published a text post 2 weeks ago
    Tulisan : Berhenti Bertanya

    Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang betapa dalam perasaan seseorang? Karena dalamnya tidak untuk kita ukur, tidak pula untuk kita salahkan.


    Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang bertapa berat hidup seseorang? Karena hidupnya sudah terlalu banyak pertanyaan tentang dirinya sendiri, tugas kita adalah menemani.


    Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang rahasia hati seseorang, nama yang disimpan rapat di hatinya. Karena dia telah berusaha kerasa untuk menyimpannya, siapa kita merasa berhak memaksanya bercerita.


    Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang keburukan seseorang. Karena setiap manusia itu bersalah, mengapa kita tidak bertanya tentang keburukan kita sendiri.


    Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang orang lain. Dan mulai bertanya tentang diri sendiri. Sudah seberapa jauh langkah yang kita buat. Bila sudah jauh, berapa banyak langkah yang berarti. Apakah perjalanan jauh ini hanya sekedar jauh, tidak bertujuan? Apakah perjalanan ini hanya membuang waktu dan tenaga, tanpa tahu kemana arah yang dituju? Apakah perjalanan ini hanya akan berakhir sia-sia.

    Bandung, 5 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 555 notes
  • kurniawangunadi published a text post 2 weeks ago
    Cerpen : Perempuan Pagi

    Ku sebut dia perempuan pagi. Lahir lebih cepat dari matahari terbit. Hidup sebelum kokok ayam bersahutan. Sebelum adzan subuh berkumandang. Kau tahu? Dia adalah perempuan segala dunia dan isinya.


    Dia mengangkat beban sebelum mata-mata manusia terbangun. Dia mengangkat doa setinggi-tingginya hingga bergetar singgasana Tuhan di langit sana.


    Ku sebut dia perempuan pagi. Perempuan yang menyiapkan segala kehidupan sebelum matahari bersinar terang. Melalui tangan dinginnya lahir berbagai macam kasih sayang. Mulai dari makanan yang nikmat dan usapan yang lembut pada wajah. Melalui mata tajamnya lahir berbagai macam cerita. Seandainya mata bisa berbicara, maka seluruh pembicaraan itu adalah sebuah kejujuran tentang cinta yang tak terbantahkan.


    Ku panggil dia perempuan pagi. Perempuan yang mungkin sangat lelah tapi dia (katanya) bahagia. Sekalipun waktu dan tenaganya terkuras oleh rasa cinta. Sebuah wujud rasa yang terungkapkan dalam bersihnya rumah, sedapnya sarapan, lembutnya sentuhan. Sebuah cinta yang terungkap dalam doa-doa sunyi. Tidak kami tahu tahu tapi bisa dirasakan betapa dahsyat doanya turut memudahkan langkah ini.


    Ku namai dia perempuan pagi. Perempuan yang setiap hari kupanggil ‘Ummi’.

    Bandung, 5 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 386 notes
  • kurniawangunadi published a text post 2 weeks ago
    Cerpen : Lelaki Sunyi dan Perempuan Rembulan

    Ada seorang laki-laki sunyi yang sering duduk dimalam sunyi, di atas genting rumahnya. Menatap rembulan lamat-lamat dan mengajaknya bicara. Pembicaraan sunyi.

    Tidak bisa didengar oleh manusia lain. Bahkan oleh tanaman dan segala binatang. Tidak bisa dicatat malaikat karena tidak terungkapkan. Tidak bisa di rekam dalam pita kaset karena tidak ada suara.

    Pembicaraan sunyi. Antara pikiran dan keyakinan. Pembicaraan yang lebih mirip sebagai ayat-ayat panjang. Berisi tentang kesunyiannya selama ini, senandung tentang harapannya selama ini, penyesalan atas maksiat-maksiatnya selama hidup.

    Laki-laki sunyi itu duduk sendiri. Menatap rembulan. Mengajaknya bercanda. Tentang kesendiriannya, lalu menertawakannya sendiri. Tentang hidupnya yang diliputi sunyi. Tentang cintanya yang tak kunjung bertemu labuhan. Tentang ketakutannya menghadapi perempuan. Tentang harapannya yang tinggi menjulang.

    Rembulan itu menanyakan bagaimana rasanya sepi. Karena rembulan tidak pernah kesepian, di langit banyak bintang.

    Lelaki sunyi kesulitan menjelaskan. Sampai pada suatu hari rembulan sengaja pergi, padam. Tak bersinar padahal rembulan tidak kemana-mana. Lelaki sunyi itu mencarinya. Rembulan menatapnya dan tetap bersembunyi. Rembulan ingin tahu apa itu sepi. Ia menyaksikan lelaki sunyi itu mencarinya, melihat matanya yang kehilangan, melihat cahaya matanya yang memudar. Lelaki sunyi itu duduk sendiri, di malam kelam, tanpa rembulan. Tidak ada teman bicara, kecuali dirinya sendiri.

    Rumah, 2 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 188 notes
  • kurniawangunadi published a text post 2 weeks ago
    Tulisan : Harapan

    Sewaktu aku melangkah, aku teringat banyak hal. Aku tidak pernah meminta sejauh dan sebaik ini. Aku sudah cukup malu untuk meminta lebih sementara Tuhan sudah begitu baik dengan memberiku kesempatan. Nyatanya, Dia memberi lebih.

    Kini harapan itu berada di langit-langit, sementara semakin tinggi harapan, semakin disadari bahwa tempat bergantungku tiada lain hanya Tuhan.

    Kini doaku diliputi kecemasan, tentang jawaban atas harapan yang Dia tunjukkan. Tentang kesempatan besar yang Dia berikan.

    Apakah ini hanya sebagai pembelajaran atau akan benar-benar menjadi ujian, aku tidak tahu. Sejauh langkahku tak terhenti, aku paham bahwa semua ini berada dalam rencana Tuhan. Segala sesuatunya diluar dugaan, segala sesuatunya benar-benar hanya bisa dipahami dengan keimanan dan ketaqwaan. Bukan lagi perasaan.

    Sebuah kota, 1 Oktober 2014

    Show the 400 notes
  • kurniawangunadi published a chat post 3 weeks ago
    • Waktu hujan malam-malam, dipikiran.
    • A : Untungnya kita sama-sama suka sama hujan ya.
    • B : Emangnya kenapa?
    • A : Soalnya hujan menghubungkan langit sama bumi, dua hal yang kata orang-orang beda banget, kayak kita.
    • B : .....
    Show the 412 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 month ago
    Tulisan : Mengenal(kan) Dirimu Sendiri

    “Siapa pun mengenal dirinya akan lebih sibuk membenahi dirinya sendiri daripada mencari kesalahan orang lain”

    — Ibn Qayyim Al-Jawziyya


    Hari ini saya kembali belajar tentang diri saya sendiri, ada sebuah dinding yang tinggi, tembok yang besar, dan topeng yang tebal yang melindungi saya dari dunia luar. Semua itu adalah kemurahan hati sang Pencipta. Dimana setiap aib yang semua manusia pasti membencinya, ditutup rapat-rapat oleh rimbunnya bunga-bunga yang cantik.


    Kadang, hal yang paling takut saya temui adalah diri saya sendiri. Banyak hal dalam diri saya yang ingin saya hindari, saya jauhi. Berusaha menjauh dan berlari, menyembunyikan diri. Sama sekali tidak mungkin karena itu ada di dalam diri saya sendiri, kemana pun saya pergi, itu adalah saya sendiri.

    Pada akhirnya saya harus tunduk pada sebuah kenyataan. Fakta bahwa itu adalah diri saya, harus saya terima, dan maafkan. Meski proses memaafkan diri sendiri itu pada kenyataannya jauh lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Karena orang lain bisa saja pergi dan menjauh, sementara kesalahan diri sendiri tetap ada di dalam diri saya, setiap hari saya temui.


    Saya sempat menggugat, menggapa saya harus memiliki cerita hidup yang seperti demikian? mengapa saya yang harus mengalami? Apa maksudnya? Tidak bisakah saya kembali ke masa itu mengubah semuanya?


    Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui saya di setiap kali sujud. Apakah saya pantas meminta surga. Sebuah hal yang paling saya khawatirkan, apakah Tuhan memaafkan kesalahan itu. Bagaimana caranya saya tahu bila Dia sudah memaafkan?


    Orang lain bisa memandang diri ini setinggi langit meski sejatinya diri ini lebih pantas berada di dasar laut dalam. Pada akhirnya, ada satu titik dimana manusia seperti saya harus belajar dan berani mengenalkan diri untuk mengenalkan diri secara utuh. Mungkin tidak kepada semua orang, hanya kepada orang-orang tertentu. Dan itu tetaplah sebuah hal berat.


    Mengenalkan diri secara utuh. Mengenalkan diri secara paripurna, hingga tak satupun tertinggal untuk diberitakan. Perihal orang tersebut kemudian pergi, itu adalah sebuah konsekuensi. Beruntunglah bila orang tersebut bisa menerima kita. Sebuah hal yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh manusia seperti saya bahwa akan ada orang yang menerima saya sedemikian rupa.


    Hidup ini sejatinya hanya perlu Allah, apapun yang didekatkan kepada kita adalah sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Termasuk pasangan kita, orang tua kita, anak-anak kita, teman-teman kita, harta kita, dan apapun yang memenuhi hidup kita.

    Bandung, 22 September 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 381 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 month ago
    Cerpen : Skenario

    Kita tidak pernah saling kenal sampai pada saat kita sama-sama bertanya, “kamu siapa?”. Diikuti rentetan pertanyaan lain yang membuat kita saling mengenal.

    Kita tidak pernah bertemu sampai pada suatu saat kita menyapa, “assalamu’alaykum” dan balasnya. Diikuti beberapa waktu untuk mendiskusikan barang sesuatu yang penting bagi kita.

    Tidak satupun waktu dalam hidup kita pernah bersisian selama lebih dari 20 tahun. Lalu tiba-tiba arah hidup menggerakkan langkahnya menjadi berdekatan. Setiap pertemuan di dunia ini telah melalui sebuah skenario besar Sang Pencipta.

    Ada banyak pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang terjadi dalam akhir-akhir ini. Mengapa hidup berputar lebih cepat dari rencana yang telah kita buat masing-masing. Seolah-olah tiba-tiba kita dilempar pada sebuah fase dimana kita telah merancangkan lebih jauh dari hari ini. Tidak sekarang.

    Tuhan sedang mencandai kita. Menampakkan diri-Nya dalam sebuah skenario besar yang membuat kita menerka-nerka maksudnya. Membuat kita tersenyum dan sedikit khawatir. Tapi keyakinan kita kepada-Nya mengalahkan banyak hal. Bahwa hidup kita berjalan di sebuah jalan yang ternyata sama sekali bukan kuasa kita. Ada Yang Maha Kuasa diatas rencana-rencana yang telah kita buat. Tuhan benar-benar sedang mencandai kita.

    Bandung, 19 September 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 300 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 month ago
    Tulisan : Sebuah Pekerjaan yang Sulit Dijelaskan

    Kerja. Sebuah kata yang sedikit mengerikan bagi para sarjana. Menjadi pertanyaan paling populer setelah lulus. Hari ini saya ditanya tentang pekerjaan. Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya dengan baik selain dengan sebuah tulisan panjang.

    Fase paling menegangkan selepas sarjana adalah tentang kerja. Di mana kita akan berkerja, menjadi apa, apakah masih berjalan pada garis yang sama dengan latar belakang pendidikan. Sebuah fase yang membuat banyak orang gelisah, mencari atau menciptakan pekerjaan sama-sama susah. Orang tua pun ikut khawatir.

    Dulu saya sempat diminta masuk ke sebuah sekolah kedinasan tapi mangkir. Orang tua dimanapun pasti mengkhawatirkan masa depan anaknya. Wajar. Saya masuk ke kampus gajah dengan masih dikhawatirkan karena jurusan yang saya ambil sangat tidak populer di daerah saya, apalagi bagi orang tua saya. Pertanyaan,”mau jadi apa sih nanti, kuliah kok menggambar aja kerjaannya?”.

    Ada banyak pertanyaan besar lima tahun yang lalu yang pelan-pelan terjawab hari ini. Tentang sebuah pekerjaan, mungkin lebih tepatnya profesi, atau bagi saya sendiri, saya memiliki pertanyaan tersendiri tentang itu.

    "Kelak, kamu ingin dikenal sebagai apa?"

    Sebuah pertanyaan untuk diri saya sendiri. Sebuah pertanyaan yang mengantarkan saya pada sebuah keputusan-keputusan tidak populer dalam sebuah keluarga Pegawai Negeri. Orang tua selalu mengkhawatirkan masa depan anaknya, tapi saya lebih khawatir kalau orang tua khawatir. Saya ingin dikenal sebagai ayah juga suami yang baik dan anak yang berbakti untuk orang tua. Bila ini sebuah pekerjaan di dunia yang paling baik. Maka setidaknya inilah pekerjaan yang saya impikan. Meski pada kenyataannya saya menjadi penulis dan desainer, itu adalah sebuah bahasa formal untuk menjelaskan apa yang sedang saya lakukan dan bisa dilihat saat ini. Dan mungkin (kurasa memang begitu) ini adalah jalan untuk mencapai impian tersebut, sebuah jalan yang bisa mengantarkan saya ke hal yang sebenarnya saya tuju.

    Untuk itu saya diam-diam bergerak, membuat banyak pembuktian. Bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah orang tua saya bayangkan. Menjadi penulis dan tukang gambar (desainer). Sebuah pekerjaan tidak terdifinisi di kantor daerah, tidak tercatat sebagai orang yang aman di bank, pun susah dijelaskan dengan kata-kata. Karena saya tidak terikat dengan lembaga atau perusahaan besar manapun.

    Teman-temanku bertanya hal yang sama, “kamu ngapain sih?” Saya sendiri bingung menjelaskan saya lagi ngapain. Tapi sungguh, ada banyak hal yang saya sendiri tidak menyangka akan terjadi di hidup saya. Bahwa kesukaan saya dari kecil bisa menghidupi saya saat ini.

    Menggambar dan menulis adalah dua hal yang tidak pernah saya sangka menjadi sebuah keterampilan yang menghasilkan. Ketika saya memutuskan untuk resign dari sebuah perusahaan beberapa waktu yang lalu, saya sendiri bertanya-tanya. Akan hidup dengan cara apa? Saya laki-laki, sebuah kesadaran yang sangat utuh menghantarkan saya pada sebuah fakta bahwa kelak saya harus menafkahi keluarga yang akan saya bangun.

    Seorang teman yang lain membesarkan hati saya, saya tahu dia mencuplik kalimat ini dari orang lain, katanya; bukan tentang masalah berpenghasilan tetap, tapi bagaimana kita tetap menghasilkan, itu jauh lebih penting.

    Apa yang saya impikan sebenarnya sangat sederhana, namun perjalanan ke sebuah kesederhanaan ternyata rumit. Saya ingin membuat pekerjaan untuk diri saya sendiri, menggaji diri saya sendiri, dan selalu berdoa semoga Allah menitipkan banyak rejeki orang lain melalui tangan saya ini. Membangun sebuah bisnis yang  sejak lama saya impikan agar saya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. Tidak perlu pergi pagi pulang petang setiap hari. Bisa mengatur waktu libur dan bekerja sendiri. Bisa mempekerjakan orang lain.

    Semua langkah ini untuk satu hal yang bagi saya sangat berharga, waktu. Saya ingin bisa lebih banyak waktu untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain. Saya sudah cukup banyak dosa dan ingin menebus banyak dosa itu dengan lebih banyak melakukan kebaikan, dan itu memerlukan waktu. Juga lebih banyak waktu untuk mengurus orang tua nanti karena pada faktanya saya adalah anak satu-satunya. Lebih banyak waktu untuk anak-anak agar mereka benar-benar memiliki seorang ayah. Lebih banyak waktu untuk pendamping hidup. Akan sangat disayangkan bila waktuku habis diluar sepanjang hari, sementara bertemu hanya pada malam hari dan akhir pekan. Padahal saya sudah sendiri sejak lahir hingga kini. Duh.

    Saya tidak tahu jenis pekerjaan apa yang sedang saya jalani, tidak terdifinisi barangkali. Tapi saya paham satu hal, bahwa saya melakukan sesuatu yang halal dan semoga sesuatu yang juga berkah. Dua hal yang harus saya pastikan dalam setiap pundi yang mengalir ke dalam darah.

    Pekerjaanku adalah untuk menciptakan pekerjaan. Bila di negeri ini masih sedikit orang yang menjadi wirausaha. Semoga Allah mengijinkanku untuk menjadi bagian dari sedikit itu. Cara-Nya mengarahkan langkahku pun sangat mengesankan, saya berkali-kali berusaha memahami bahwa semua ini benar-benar terjadi dan bukan lagi mimpi.

    Langkah ini sudah cukup jauh. Impian itu semakin menjadi-jadi. Membutuhkan lebih banyak keberanian dalam mengambil keputusan. Semoga Allah mengabulkan apapun yang menjadi impian kita. Bulan yang tinggi pun telah manusia capai, bukan tidak mungkin membangun banyak hal yang masih di bumi kan ?

    Bekerjalah dimana hati ikut bekerja di sana. Uang bukan perkara paling penting karena ia tidak akan habis dicetak bahkan sampai kita menjadi tulang belulang. Bekerjalah di mana kita bisa memaksimalkan segala potensi kita sebagai manusia, menjadi manifestasi tertinggi atas sebuah kebermanfaatan hidup.

    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

    Dalam sebuah kontemplasi tentang pekerjaan di usia 23+

    Bandung, 19 September 2014 | (c)kurniawangunadi

    Show the 187 notes