MASGUN KURNIAWAN GUNADI

23 | Writer and Designer | Muslim | Indonesian | ENTJ | Pencerita di Suaracerita | Forum Indonesia Muda #16 | Penulis Hujan Matahari

Bachelor of Industrial Design 2009, Faculty of Fine Art and Design, Institut Teknologi Bandung

Bandung, West Java | Indonesia
  • Posts tagged "SalmanITB"
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #8 : Pernikahan Menurut Negara dan Tradisi

    Bismillah ar Rahman ar Rahim


    SPN #8 ( Ahad, 14 April 2013 ) adalah sesi terakhir dari seluruh rangkaian Sekolah Pra Nikah yang diadakan oleh Salman ITB. Pada sesi terakhir ini, materi yang dibahas adalah pernikahan menurut pandangan negara dan tradisi. Mengapa tidak disertakan pandangan agama dalam bahasan ini, sebab sudah jelas dari materi SPN #1 - #7, kita telah membahas pernikahan menurut agama :)

    Kita harus sadar bahwa kita hidup di sebuah negara dimana di dalamnya terdapat aturan/hukum/undang-undang yang berlaku untuk mengatur tata cara hidup masyarakat. Tak terkecuali tentang pernikahan sebagai implementasi syariat yang dikukuhkan dalam peraturan-peraturan negara.

    Selain itu, kita khususnya yang hidup di Indonesia, memiliki keanekaragaman suku bangsa yang hal itu juga berdampak pada cara pandang suatu suku bangsa tersebut terhadap berbagai permasalahan. Tak terkecuali pula masalah pernikahan.

    Pertama-tama kita harus menjadikan agama sebagai acuan paling hak, kemudian kita juga wajib mentaati aturan yang berlaku selama aturan tersebut tidak melanggar syariat dan demi kemashlahatan.

    NIKAH DALAM PANDANGAN NEGARA

    Negara telah mengatur pernikahan dan tata caranya berdasar pada aturan dari agama masing-masing. Khusus untuk bahasan kali ini, agama islam. Agama telah membentuk lembaga-lembaga untuk mengurus, menuntun, dan mengawasi urusan-urusan agama islam, salah satunya urusan pernikahan.

    Perubahan zaman telah menuntut adanya perubahan birokrasi, demi kemashlahatan bersama. Nikah yang pada zaman dahulu, dengan terbatasnya akses komunikasi, wilayah pergaulan yang tidak seluas saat ini. Tentu akan menuntut tata cara yang berbeda dengan zaman sekrang.

    KUA dibentuk oleh Dep.Agama sebagai lembaga yang mencatat dan mengawasi pernikahan. Mengapa pernikahan perlu dicatat oleh negara, hal ini dilakukan demi kemashlahatan masyarakat. Pencatatan nikah diperlukan negara untuk melindungi warga negaranya dari tindakan penyelewangan dari pernikahan.

    Oleh sebab itu, nikah siri dan sejenisnya meski “dikatakan” sah menurut agama, tapi belum sah menurut negara. Ada cukup banyak dan detil mengenai prosedur pernikahan melalui KUA, hal tersebut sekali lagi dilakukan demi kebaikan, mengingat di zaman ini, pernikahan sering dilecehkan oleh oknum yang menganggap rendah makna sebuah pernikahan.

    Mengaku pandai agama kemudian menikah siri karena menganggap negara yang ada saat ini belum sesuai syariat. Ada banyak orang terjebak dalam kubangan pikiran sempit, dan dalam kasus pernikahan siri dsb yang jelas paling dirugikan (pada zaman ini) adalah perempuan.

    Nikah siri tersebut dilakukan tanpa diketahui oleh negara, tanpa pengumuman kepada khalayak bahwa telah terjadi pernikahan.

    Jika seorang laki-laki benar-benar serius dan memiliki iman yang baik. Tentu saja dia tidak akan ragu-ragu untuk menikahi perempuan secara terang-terangan bukan ?

    Apakah hanya karena ketakutan tidak mampu mengendalikan nafsu, ketakutan tidak mampu menjaga diri lantas menjadikan alasan yang sah untuk nikah siri ?

    Negara tidak bisa melindungi ( terutama perempuan ) dalam kasus tersebut karena tidak ada catatan pernikahan oleh negara. Tidak ada bukti sah menurut negara yang menjadikan kepastian hukum baginya. Negara telah memfasilitasi pernikahan, berusaha melindungi pernikahan dan individu yang terlibat dalam pernikahan tersebut.

    Meski ada beberapa kontroversi dan pendapat mengenai hal ini, terutama keterlibatan negara. Saya sendiri, memiliki pendapat bahwa kita sebagai seorang muslim memiliki kewajiban untuk taat kepada pemimpin. Selama ketaatan tersebut tidak untuk hal-hal yang mendatangkan murka Allah.

    NIKAH MENURUT TRADISI

    Akan sangat menyenangkan mungkin rasanya apabila kita mendapat pasangan yang berbeda latar belakang suku bangsa. Akan ada pertemuan dua tradisi yang bisa jadi sumber kecocokan atau sebaliknya.

    Perlu adanya komunikasi yang baik antara dua keluarga tersebut.

    Dalam tradisi, ada banyak sekali upacara/ritual dalam resepsi pernikahan. Kita sebagai seorang muslim harus pandai-pandai menyikapi dan memilah, mana tradisi yang baik dan yang bertentangan dengan syariat islam.

    Dalam syariat islam, kita hanya diwajibkan adanya akad dan walimatul ‘ursy meski hanya memotong seekor kambing. Tidak ada upacara adat yang njilmet, rambut disanggul sana sini, atau yang lain. Itu adalah tradisi, setiap daerah dan negara memiliki tradisi upacara pernikahannya masing-masing.

    Islam adalah koridor yang membatasi mana yang baik dan mana yang tidak baik dengan jelas. Jangan sampai, kita terjebak dalam tradisi yang justru bertentangan dengan syariat islam dan lebih cenderung kepada syirik. Menaruh sesaji di perempatan jalan misalnya, atau mengenakan pakaian ( dalam upacara nikah ) yang justru memperlihatkan aurat. Atau menghadirkan standing party yang nabi sendiri telah mengingatkan agar kita makan dan minum sambil duduk.

    Tradisi pun ada yang baik, seperti upacara sungkeman ( tradisi jawa ) , karena penulis ini lahir dalam tradisi jawa, saya sendiri telah memilah mana tradisi yang bisa dilaksanakan dan baik, dan mana yang tidak.

    Foto pre-wed juga tidak ada dalam islam, tradisi itu tidak hanya soal adat-kebiasaan suku bangsa, tapi juga tradisi/kebiasaan masyarakat modern yang cenderung mencontoh tren kebarat-baratan.

    Sebelum pernikahan, jelas bagi seorang laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan saling memegang atau beradegan mesra dibalik lensa kamera. Pemahaman-pemahan terhadap berbagai fenomena dalam pernikahan ini harus kita cermati dan sikapi dengan landasan aturan agama yang telah kita yakini.

    Ada banyak studi kasus yang bisa kita pelajari dan telaah mengenai tradisi, terutama tradisi kita masing-masing. Ambil yang sesuai dan baik menurut agama.

    Sekian Materi SPN dari #1 hingga #8, inshaAllah pembahasan mengenai SPN akan dilanjutkan dalam bentuk #Tulisan berdasar pada beberapa sumber dan buku materi SPN, karena ada beberapa bahasan yang sebelumnya tidak tersampaikan.

    Semoga diberikan kesehatan dan waktu untuk menuliskannya.

    SPN adalah Sekolah Pra Nikah yang diadakan oleh Salman ITB, terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai persiapan pernikahan.

    Penulis menerima saran, kritik, tanggapan dan diskusi, materi rangkuman  SPN#1 - #8 ditulis berdasar pada catatan penulis. Semoga tulisan tersebut memberikan manfaat untuk kita semua.

    Jzk

    Show the 34 notes
  • kurniawangunadi published a photo post 1 year ago

    Hari berkesempatan, setelah sekian lama akhirnya terwujud. Menaiki menara masjid Salman ! Terima kasih banyak untuk kang Dharma yang membantu mewujudkan :D

    Sumber Gambar : disini [1], [2], [3], [4], [5], [6], [7]

    Show the 25 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #7 : Manajemen Keuangan Rumah Tangga

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

    Pada pertemuan ke-7 ( 7 April 2013 ) ini akan dibahas mengenai Manajemen Keuangan, bagaimana cara mengelola perekonomian keluarga agar tercipta kehidupan rumah tangga yang stabil dan harmonis. Ibarat sebuah negara, keluarga adalah miniatur sebuah negara dimana didalamnya terdapat RAPBN yang akan dijalankan oleh negara tersebut. Strategi dan aneka langkah taktis digunakan untuk membuat neraca nya jangan sampai defisit.

    Dalam mengawali kehidupan rumah tangga, kita sering mendengar pasangan didoakan untuk menjadi keluarga yang sakinah-mawadah-warrahmah, dalam bahasa yang lebih sederhana ketiga hal tersebut adalah “hayatan thayyiban" ( kehidupan yang baik ).

    Seperti apakah kehidupan yang baik itu ?

    Dalam masyarakat saat ini, kehidupan yang baik dapat diindikatorkan pada religius-sosial-materi-kesehatan, keempat hal tersebut seimbang. Tidak berat salah satu atau kurang salah satu.

    Contoh, kita rajin beribadah namun tidak bersosial dengan masyarakat disekitar kita, itu tentu tidak baik. Jika ingat sebuah cerpen dari A.A Navis - Robohnya Surau Kami, cerita disana dapat menjadi gambaran hubungan dengan Allah juga harus diimbangi dengan hubungan kepada sesama manusia.

    MATERI

    Materi tidak melulu berkaitan dengan uang, dalam pernikahan, untuk mencapai beberapa keinginan/kebutuhan selalu dibutuhkan adanya materi. Suami diwajibkan mencari nafkah dan menafkahi secara layak keluarganya.

    Hidup adalah proses perjalanan, dimana setiap perjalanan selalu ada tujuan. Pernikahan adalah proses perjalanan, dalam kehidupan rumah tangga akan selalu diwarnai dengan cita-cita dan keinginan. Keinginan memiliki rumah, keinginan memiliki kendaraan yang layak, pakaian yang bagus, pendidikan yang paling baik untuk anak-anak, berlibur, dan aneka keinginan lain yang mau tidak mau membutuhkan materi yang cukup banyak.

    Perlu adanya kesepahaman dan kesepatakan antara suami dan istri dalam mengatur perekonomian keluarga, hal ini harus dilakukan agar cita-keinginan tersebut dapat diwujudkan bersama-sama.

    Suami bekerja mencari nafkah adalah salah satu bentuk kecintaannya kepada istri-anak nya, rasa cinta yang mendorongnya terus bekerja keras demi mewujudkan kebahagian dan rasa nyaman dalam kehidupan rumah tangganya, memenuhi segala kebutuhannya.

    Istri dalam banyak fakta adalah pengatur keungan rumah tangga yang dominan, peranan perempuan dalam rumah tangga untuk menjaga kestabilan ekonomi sangat besar. Perempuan disifati dengan sifat cermat, tidak seperti laki-laki yang cenderung ceroboh-tidak teliti. 

    PENGATURAN PEMASUKAN

    Pendapatan baik berupa uang atau wujud lain harus dipastikan bahwa uang tersebut tidak hanya halal, namun juga baik. 

    Harta suami adalah milik istri, namun harta istri tetaplah milik istri dimana laki-laki tidak boleh menggunakan tanpa seijin istrinnya. Pemasukan yang didapatkan harus diantur cash flow nya agar terencana dengan cermat setiap pengeluaran yang dilakukan dan memastikan pemasukan berasal dari sumber yang jelas. Hal ini untuk menghindari kita dari penggunaan harta yang sia-sia.

    Kita harus paham bahwa rejeki itu berasal dari Allah, segala hal yang kita miliki adalah titipan. Jadikanlah harta yang kita miliki ini digunakan untuk mencapai tujuan yang diridhai Allah.

    Bagaimana cara kita mengoptimalkan harta yang kita miliki di jalan Allah inilah yang akan menjadi bahasan tersendiri. Dalam kehidupan disaat ini, banyak sekali godaan untuk menggunakan harta tersebut secara sia-sia. Gaya hidup konsumtif dan hedonisme telah menjarah pemahaman kita bahwa harta kita ini sejatinya didalamnya ada hak-hak lain yang harus kita tunaikan. Didalamnya ada hak anak yatim, ada hak Allah pula yang terkandung. 

    Masalah pendapatan ini sangat rahasia, jika suami seorang pegawai dengan gaji tetap, ada titik terang yang pasti bahwa ada sekiah rupiah yang masuk, namun tetap saja pengaturan Allah tentang rejeki ini sangatlah rahasia. Bahwa setiap makhluk telah dijamin rejekinya melalui berbagai jalan yang tidak terduga. 

    Kadang pemasukan pun datang dari sumber yang tidak terduga sama sekali,  bentuk yang diperoleh pun tidak sekedar uang, bisa jadi bingkisan kue dari rekan, kado dari tetangga, atau sekedar ajakan makan siang gratis atau bahkan menang kuis berhadiah.

    PEMBELANJAAN HARTA

    Dalam membelanjakan harta, suami dan istri harus memiliki kesepakatan dan pemahaman yang sama, bahwa harta adalah titipan, didalamnya terkandung hak-hak lain yang harus ditunaikan, diantaranya hak Allah dan hak orang lain.

    Untuk lebih jelasnya, perhatikan diagram dan uraian dibawah :

    image


    PEMASUKAN

    Dalam uraian mengenai pemasukan diatas, telah dipahami bahwa pemasukan haruslah halal dan baik ( halalan thayiban ). Suami khususnya sebagai orang yang wajib menafkahi keluarga harus selektif dalam mencari nafkah, sumber harus halal, caranya juga harus halal. Yang halal pun tidak selamanya baik. Menafkahi keluarga haruslah dari harta yang halal dan baik. 

    Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan …. ( QS. 2:168 )

    Istri juga harus mengingatkan suami mengenai harta yang masuk, jangan sampai keluarga diberi makan dari sumber yang haram. Harus ada filter halal-haram yang kuat pada diri suami dan istri. Agar dalam keadaan terdesak tidak menggunakan cara haram untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya.

    PENGELUARAN

    Pada urian pengeluaran, kami sajikan urutan prioritas pengeluaran yang harus dipahami dengan benar oleh kita.

    PRIORITAS 1 : HAK ALLAH

    Dari pemasukan yang kita peroleh, pengeluaran pertama yang harus kita keluarkan adalah Hak Allah. Hak ini berupa ZIS ( Zakat, Infaq, Sedekah ). Ambilah sebagian dari harta tersebut pertama-tama untuk hak Allah. Hal pertama ini harus disepakati oleh suami-istri sejak awal, jika tidak bisa menjadi masalah, dimana salah satu lebih mengutamakan kepentingan keinginan terlebih dulu daripada menunaikan hak Allah ini.

    Harta adalah titipan, didalamnya Allah menitipkan haknya pula. Membelanjakan harta dijalan Allah akan lebih banyak manfaat dan pahalanya.

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. ( QS. 2:261)

    PRIORITAS 2 : HAK ORANG LAIN

    Hak orang lain meliputi hutang (apabila memiliki hutang) harus dibayar lebih dulu, gaji asisten rumah tangga/PRT, dan orang lain yang memang harus kita “bayar” dengan harta kita. Bayarkanlah dulu hak mereka.

    PRIORITAS 3 : HAK MASA SEKARANG

    Barulah setelah 2 hak prioritas sebelumnya telah ditunaikan, prioritas ketiga ini adalah hak saat ini, yakni memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli ini itu untuk keberlangsungan kehidupan rumah tangga. Membayar tagihan rumah, biaya pendidikan, ongkos bensin, dan lain-lain. Belanjakanlah harta sesuai dengan kebutuhan. Hindari sifat konsumtif, membeli barang-barang yang tidak diperlukan hanya karena keinginan dan hawa nafsu.

    Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. 25:67)

    PRIORITAS 4 : HAK MASA DEPAN

    Hak ini paling akhir, apabila ada kelebihan harta setelah kita memenuhi 3 hak sebelumnya, waktunya harta tersebut ditabungkan untuk perancangan masa depan, dapat pula diinvestasikan dalam bentuk lain seperti sawah, ternak, asuransi syariah, dan lain-lain. Masa depan memang perlu dipesiapkan dan diantisipasi. 

    Harta yang berlebih itu bisa digunakan untuk cadangan dan jaga-jaga dimasa mendatang.

    Demikianlah pembahasan sederhana mengenai pengaturan keuangan dalam rumah tangga, pembahasan diatas dibuat secara garis besar. Sebab pada faktanya, perekonomian masing-masing keluarga berbeda-beda. Tingkat ekonomi yang berbeda-beda, akan tetapi pada dasarnya, pelaksanaannya sama.

    Ingatlah bahwa harta adalah titipan, padanya disematkan pula tanggungjawab yang harus kita tunaikan. Sebagai seorang muslim, kita harus menggunakan segala pemberian Allah  ini seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik. Mencapai tujuan kita tanpa harus melanggar larangan Allah. 

    ——————————————————————————————————————

    Sekian uraian singkat materia SPN #7, seluruh tulisan mengenai SPN dapat disimak melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

    Penulis menerima masukan, kritik, dan diskusi untuk menyebarluaskan setiap huruf ilmu.

    Jzk

    Show the 87 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #6 : Fiqih Thaharoh dalam Nikah

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

    Disebabkan oleh membolosnya saya pada pertemuan ke-6 ( 31 Maret 2013 ) di kelas SPN, berdasar pada catatan teman-teman saya, ternyata materi ini adalah materi umum yang bahkan telah kita pelajari sejak tingkat sekolah pada mata pelajaran agama yang formalitas itu.

    Materi yang akan dibahas kali ini adalah thaharoh, khususnya dalam pernikahan. Mengapa thaharoh menjadi sesuatu yang perlu diangkat secara khusus. Sederhananya, seorang suami harus tahu jika istrinya tidak selamanya boleh untuk “didatangi” sebab sedang tidak suci,dan lain-lain.

    Thaharoh secara bahasa artinya bersih, secara terminologi artinya bersih lahir-batin,tempat,dan pakaian yang dikenakan. Masalah fiqih thaharah sendiri dapat teman-teman cari dari berbagai sumber, masalah kesucian dalam shalat, memegang al quran, dan lain-lain.

    Aktivitas-aktivitas dalam kehidupan berumah tangga terutama menyangkut kegiatan agama seperti beribadah menuntut kesucian, bahkan kita sampai dituntut untuk dalam keadaan suci (berwudhu) sebelum tidur.

    Permasalah kebersihan/kesucian ini harus dipahami oleh suami maupun istri. Suami harus tahu kapan istrinya sedang tidak suci (haid). Istri juga harus tahu bahwa dia bisa tetap menemani suaminya buka-sahur puasa sunah meski dirinya tidak puasa. 

    Sebenarnya tulisan ini bersifat luas, masalah thaharoh juga meliputi banyak hal. Masalah bagaimana cara bersuci, apa saja yang membatalkannya, semuanya bisa dicari dari berbagai referensi.

    Menikah adalah salah satu cara menjaga kesucian, kesucian lahir dan batin bagi laki-laki dan perempuan. Dalam menjalani kehidupan pernikahan, semuanya dilakukan dalam keadaan suci, sebab segala bentuk ibadah terutama yang wajib selalu diminta dalam keadaan suci.

    Pengetahuan tentang pentingnya thaharoh ini dapat mengantarkan pasangan suami-istri mencapai ibadah yang sempurna. Saling mengingatkan tentang kesucian, saling menyempurnakan. Ibadah dalam pernikahan bernilai jauh lebih besar daripada seseorang yang masih sendiri. Sangat disayangkan apabila ibadah-ibadah tersebut menjadi tidak sempurna/batal hanya karena batalnya kesucian akibat ketidakpahaman.

    Demikianlah tulisan ini, pada dasarnya mengajak teman-teman untuk membaca bab fiqih, buku fiqih,atau melalui artikel di internet yang berhubungan dengan thaharoh untuk menjadi salah satu bekal ilmu kita sebelum menjalani kehidupan pernikahan.

    Bekal ilmu yang baik inshaAllah akan lebih banyak ridha nya dari Allah. Pernikahan adalah sekolah kehidupan dimana selamanya sampai mati kita terus belajar. 

    Selamat mempersiapkan bekal.

    Seluruh materi SPN dapat disimak melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

    Jzk

    Show the 35 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #5 : Masalah Dalam Rumah Tangga (bagian 2)

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim


    Melanjutkan tulisan materi SPN #5 bagian 1, materi masih akan melanjutkan tentang Masalah Dalam Rumah Tangga.

    Seperti telah diuraikan dalam materi #5 bagian 1, masalah dalam rumah tangga adalah suatu kepastian. Masalah pasti ada. Untuk mengatasinya, ada beberapa kunci dasar yang bisa menjembatani masalah tersebut agar tidak semakin besar.

    INTERVENSI PIHAK KETIGA

    Yang dimaksud dengan pihak ketiga disini adalah orang tua atau mertua. Sebaiknya setelah menikah, berusahalah untuk tinggal dalam rumah sendiri meski itu menyewa/kontrak. Sebab proses saling mengenal akan lebih dalam ketika kita dan pasangan kita hanya berdua.

    Intervensi seringkali terjadi dari orangtua/mertua, hal ini kadang diakibatkan oleh ketidaksiapan dan keterkejutan orang tua ketika menyadari ternyata anaknya telah menjadi milik orang lain (terutama untuk perempuan).

    Keinginan orang tua untuk melihat anaknya bahagia kadang muncul dalam bentuk tindakan dan intervensi, meski tinggal di rumah orang tua itu enak/nyaman. Namun, baiknya dalam usia muda pernikahan, tinggalah terpisah dari keduanya. Agar intervensi yang terjadi dari orangtua/mertua bukan dalam bentuk intervensi langsung, namun menjadi nasihat (tidak langsung)

    Pasangan muda haruslah belajar saling mengenal dan belajar satu sama lain, proses ini akan lebih berjalan ketika hanya ada dua orang ( kita dan pasangan kita ).

    KOMUNIKASI ADALAH KUNCI

    Komunikasi dan berbicara itu berbeda, komunikasi bukanlah tentang apa yang ingin disampaikan, tapi tentang apa yang ingin dia mengerti.

    Kita harus memahami, bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan melalui kata-kata/bicara. Dapat melalui tulisan, tindakan, dan lain-lain. Tidak semua orang mampu berbicara dengan baik, tidak ada salahnya menyampaikan isi hati melalui surat-surat cinta kepada pasangan meski tinggal serumah. Tidak ada salahnya pula mengirimkan bunga terharum dimuka bumi untuk pasangan yang sedang dikantor. Tidak ada salahnya pula berkomunikasi melalui doa, menjadikan Tuhan sebagai perantara pesan.

    Komunikasi adalah jembatan paling baik untuk menghadapi masalah, Ketika komunikasi dilakukan, selalu ingat pula jangan posisikan diri kita (laki-laki) sebagai suami,sebagai kepala rumah tangga dan istri kita sebagai yang dipimpin, komunikasi dengan posisi seperti itu justru yang terjadi bukan komunikasi, tapi instruksi/perintah.

    Tempatkanlah pasangan kita sejajar dengan kita, jadikan dia sebagai teman dan sahabat, jangan tinggikan diri kita diatas pasangan yang lain. Karena sejatinya seperti dalam bahasan SPN sebelumnya, rumah tangga adalah tempat belajar, masing-masing akan berperan kadang sebagai guru, kadang sebagai murid. Kadang pula keduanya sama-sama menjadi murid yang sedang berdiskusi dan sama-sama mencari guru dari orang lain (ustadz, pengajian, dsb).

    Lakukanlah komunikasi yang bersahabat, jika pasangan kita salah, itu adalah ujian kesabaran bagi kita untuk mengingatkannya dengan cara yang ma’ruf dan lemah lembut.

    RUANG PERSONAL

    Kadang dipahami oleh banyak orang, bahwa setelah pernikahan, ruang personal telah hilang, dua individu melebur menjadi satu. Memang pernikahan menyatukan kedua insan, tapi harus dipahami bahwa kesatuan itu tetap terbentuk oleh dua individu yang berbeda sama sekali.

    Ruang personal sejatinya tetap dimiliki oleh masing-masing. Hal ini diwujudkan dalam mahar. Mahar laki-laki kepada istri adalah tanda adanya keberadaan ruang personal bagi pasangan kita, Mahar tersebut adalah hak utuh milik perempuan, tidak boleh digunakan/dicampur/diminta oleh suami bahkan oleh pihak keluarga sekalipun. Harta mahar itu adalah hak penuh seorang istri. Perkara nanti istri memberikan dengan ikhlas kepada suami, itu perkara lain.

    Keberadaan ruang personal itu tetap harus kita hargai. Seorang istri kadang membutuhkan waktu pribadinya, waktu dimana ia tidak ingin diganggu oleh suami dan oleh anak-anak. Menikmati waktu untuk memanjakan dan merawat dirinya.

    Seorang suami kadang juga ingin menyendiri, memancing ditepi danau atau membaca buku dengan cermat. Ruang-ruang pribadi berupa waktu itu harus kita hargai sebagai sebuah hak masing-masing.

    Pernikahan adalah kebersamaan setiap hari. Waktu kebersamaan itu jelas jauh lebih banyak daripada waktu menyendiri.

    Kadang ruang personal tidak hanya berwujud waktu, tapi juga berwujud rahasia. Dalam menjaga hubungan pernikahan, kadang ada rahasia yang tidak akan pernah diungkapkan sama sekali oleh pasangan. Kita tidak tahu dan dia tidak ingin memberi tahu, ruang personal seperti itu akan dimiliki oleh setiap orang, Kadang rahasia itu menyangkut masa lalu misalnya.

    Pernikahan menyatukan namun tidak menjadikan keduanya melebur sepenuhnya, kelak pertanggungjawaban di negeri akhirat atas perbuatan akan dipertanggungjawabkan masing-masing.

    Pernikahan adalah kesatuan di dunia, dan tidak semua orang bisa mempertahankannya kelak di negeri akhirat. Bahkan pasangan/keluarga menjadi musuh di negeri akhirat ( lihat QS. 64:14 ). Maka masing-masing kita harus senantiasa menjadikan pernikahan sebagai jalan kebaikan, menjadikan pasangan kita sebagai teman belajar, berjalan, dan berikhtiar untuk menuju negeri akhirat yang kekal.

    Menikahlah untuk di dunia dan akhirat, berusaha dan berdoalah agar pasangan kita saat kelak menjadi pasangan kita di surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Aamiin

    Sekian materi SPN #5, penulis menerima saran, kritik, koreksi, diskusi, dan masukan yang membangun untuk menjadikan materi ini lebih baik.

    Tulisan mengenai Materi SPN Salman ITB dapat diakses melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

    Semoga tulisan ini memberikan manfaat, aamiin

    Jzk

    Show the 49 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #5 : Masalah Dalam Rumah Tangga (bagian 1)

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim


    Materi SPN #5 (24 Maret 2013) ini akan membahas sedikit tentang masalah dalam rumah tangga, sebab dan prevensinya.

    Rumah Tangga itu ibarat kapal, sepanjang perjalanan melintasi lautan itu tentu ada badai, monster naga, cumi-cumi raksasa dan sebagainya yang akan menghadang diperjalanan. Ketika kita telah memutuskan untuk menikah, seketika itu pula kita juga akan “menikahi” masalah baru yang berbeda dengan masalah ketika kita masih lajang.

    Rasululloh SAW sendiri sebagai suri tauladan umat manusia, dalam menjalani kehidupan rumah tangganya pun didera masalah. Pernah suatu ketika Aisyah cemburu dengan membanting piring didepan tamu ,atau Rasul yang marah dan mendiamkan istrinya selama 3 hari ( silakan cari cerita dan riwayatnya sendiri ya :3 ). Masalah dalam pernikahan itu sudah dipastikan ada.

    Namun, pertanyaannya adalah. Mengapa ada pasangan yang mampu mempertahankan pernikahannya hingga ajal, ada juga yang ala selebriti, 6 bulan nikah kemudian cerai.

    Perbedaannya terletak pada daya tahan, daya tahan masing-masing pasangan dalam menghadapi setiap permasalahan rumah tangga.

    AKAR MASALAH

    Dari sekian banyak sekali sebab masalah, ada satu yang harus kita benar-benar pahami, bahwa syaitan itu tidak akan senang dengan pernikahan dan berusaha untuk menceraikan. Syaitan membisikan masalah dan mengomporinya agar menjadi besar, perkara-perkara sepele diperbesar. Maka kita perlu menjaga diri dengan hati-hati dan selalu ingat, bahwa pernikahan memang akan ada masalah, tapi jangan dibesar-besarkan.

    Pernikahan dibenci syaitan karena beberapa hal, diantara hal mendasar adalah pernikahan itu menutup dan memperkecil pintu maksiat. Zina berupa hubungan suami-istri (sex)  dilarang diketika seorang belum nikah, tapi hubungan itu menjadi halal bahkan berpahala ketika sudah menikah, berdua-duaan bukan lagi jadi maksiat, bergandengan tangan bukan lagi perbuatan haram. Pernikahan telah membuat pintu maksiat itu yang sering dilakukan dalam kasus pacaran, menjadi tertutup dan mengecil.

    Selain itu, pernikahan itu bernilai separuh agama. Maka sudah tugas syaitan untuk menghancurkan separuh agama tersebut, melalui masalah-masalah dalam pernikahan, apabila tidak bersabar dan keimanan antara keduanya, kata c-e-r-a-i menjadi kata yang amat ringan. Padahal itu adalah sesuatu yang disukai oleh syaitan, dan amat dibenci oleh Allah. Maka hancurlah separuh agama kita, karena kata cerai.

    MENIKAHI PERBEDAAN

    Salah satu masalah krusial yang seringkali kita tidak paham adalah masalah perbedaan.
    Pernikahan bukanlah menikahi persamaan, namun menikahi perbedaan. Perbedaan menyebabkan pasangan itu saling melengkapi. Sebab itulah tujuan pernikahan, menyempurnakan. Jika kita menikah karena sama, lantas apa gunanya pernikahan, tidak menambah kualitas ( added value ) sama sekali.
    .
    Dalam pernikahan, kita kan menemui banyak sekali perbedaan. Bahwa sejak awal pernikahan, jenis kelamin telah berbeda, hal ini memberikan petunjuk bahwa baik sifat, perilaku, kekuatan, hak dan kewajiban, dan lain-lain jelas-jelas telah berbeda.
    .
    Sebisa mungkin kita selalu berdiskusi, mencari titik temu antara kita dan pasangan atas hal-hal yang dianggap berbeda. Carilah titik kesepakatan, kesepakatan yang menjembatani kedua perbedaan tersebut untuk sama-sama saling melengkapi.

    .
    Hilangkanlah sifat kecenderungan untuk terus menyatukan perbedaan tersebut. Jika kamu suka membaca buku, dan pasanganmu lebih suka mendengarkan musik, jangan paksakan kesukaanmu itu kepada pasangan. Biarkanlah perbedaan itu tetap apa adanya, carilah titik temu antara membaca buku dan mendengarkan musik agar kedua perbedaan tersebut saling memahami dan melengkapi.
    bagian 2 inshaAllah menyusul besok pagi :)
    Show the 55 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #4 : Seks dan Kesehatan Reproduksi

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

    Pengisi materi pada SPN #4 adalah seorang dokter dan seksolog, dr. H Hanny Rono, Sp.OG. Materi SPN kali ini akan membahas tentang perkara seks yang sering dianggap tabu dan enggan dipelajari oleh seseorang yang ingin/akan menikah sehingga menjadikannya “buta pengetahuan” tentang perkara seks ketika pernikahan. Selain itu juga dibahas tentang kesehatan reproduksi sebagai salah satu fitrah manusia untuk melangsungkan keturunannya.

    Pertama tama kita harus percaya penuh bahwa Islam adalah agama penyempurna dari agama-agama langit sebelumnya. Pengaturan Islam meliputi seluruh alam semesta tanpa terkecuali hubungan seks.

    Islam dengan bahasanya yang mulia memberikan rambu-rambu yang sangat jelas tentang hal ini. Kita juga harus mengetahui, bahwa dalam agama yang saat ini ada di dunia, hanya ada dua agama yang mengatur tentang seks didalamnya. Islam adalah salah satunya.

    Seks bukanlah perkara tabu, ia menjadi tabu ketika tidak diletakankan pada  porsi dan bahasan yang tepat. Pernikahan tidak akan pernah lepas dari perkara seks, seks adalah salah satu bagian dari indahnya pernikahan. Keberadaan anak nantinya pun dimulai dari hal ini.

    Islam memberikan jalan terbaik untuk menyalurkan hasrat seks yaitu dengan pernikahan, seks menjadi halal bahkan berpahala dengan jalan pernikahan. Lantas untuk apa “bermain” haram jika yang halal justru telah jelas dan dipermudah ?

    LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN


    Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang diciptakan berbeda. Ada sebuah keindahan pengaturan islam tentang laki-laki dan perempuan mengenai seks.

    Resiko perempuan dalam berhubungan seks itu 99% , sedang 1% risikonya milik laki-laki yang paling tinggi “cuma” penyakit kelamin.

    99% nya itu meliputi rusaknya selaput dara, hamil, pusing, mual, dan sebagainya. Tapi 99% risiko tersebut dijamin dengan sesuatu yang sangat mulia. Surga.

    Seorang perempuan yang mengandung dan melahirkan kemudian ia meninggal, nilainya sama dengan seorang yang syahid. Dan ganjarannya adalah surga. Laki-laki sama sekali tidak mendapatkan apa-apa dalam hal ini.

    Itulah islam dengan pengaturannya. Sesuatu yang begitu berat memiliki ganjaran yang sangat agung.

    ISTRI ADALAH LADANG BAGI SUAMI


    Salah satu keindahan Al Quran ketika membahas tentang hubungan suami istri dapa dilihat dalam ayat berikut

    "Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman."(al-Baqarah: 223)


    Jika kita telurusi sebab-sebab ayat ini turun, tidak lepas juga dari pekara hubungan suami-istri. Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas.

    Seorang perempuan (istri) secara biologis memang dipersiapakan untuk selalu siap. Sebab itu pula diturunkan larangan untuk melakukan hubungan ketika haid. Sebab nanti menimbulkan penyakit dsb, tapi masih dibolehkan melakukan kemesraan ( tidak berhubungan badan di wilayah farji ), hal itu tetap siap dilakukan oleh perempuan.

    Islam menggambarkannya sebagai “ladang”, sedang peladang tentu tidak setiap hari bercocok tanam di ladangnya, ada masa-masa menanam, ada masa-masa merawat, dan ada masa-masa memetik hasil tanamnya.

    Semua itu sungguh dibahasakan dengan bahasa yang sangat baik dan kiasan yang paling tepat.

    BELAJAR TENTANG SEKS BUKAN BELAJAR PERKARA HARAM
    Ada mindset bahwa belajar tentang seks adalah perkara yang memalukan, menjijikan. Ini adalah anggapan yang keliru.

    Seperti telah diuraikan pada materi SPN sebelumnya, pernikahan itu membutuhkan persiapan, ilmu dunia dan ilmu akhirat (agama).

    Seks itu ada ilmunya, baik ilmu dunianya (seksologi) dan ilmu agamanya. Untuk memiliki anak yang baik kita diperintahkan untuk berdoa dahulu sebalum melakukan bahkan doanya pun diajarkan.

    “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434)

    Keharmonisan hubungan seorang suami dan istri pun tidak terlepas dari perkara ini (seks), mempelajari sifat-sifat biologis pasangan juga memiliki caranya, ilmunya jelas dipelajari sebelum menikah, namun prakteknya hanya bisa dilakukan setelah menikah.

    Ketika kita belajar tentang sebuah ilmu, kita tentu saja tidak serta merta langsung bisa mengaplikasikan ilmu tersebut, ada masa dan kondisi dimana kita bisa nantinya dapat mengaplikasikannya.

    Kita kuliah/sekolah saat ini pun sebagai persiapan, kita belum bisa mengaplikasikan ilmunya saat ini. Sama ketika kita belajar tentang seksologi dari sisi ilmu dunia dan ilmu agama.

    KESEHATAN REPRODUKSI


    Untuk mempersiapkan keturuan yang sehat kita harus belajar untuk mempersiapkan dengan sehat organ reproduksi. Baik laki-laki maupun perempuan. Persiapkan kondisi rahim yang sehat untuk tumbuh kembang janin. Dan sebagainya.

    Selain itu, kesehatan reproduksi pun tidak hanya perkara kesehatan organ reproduksi, tapi juga tentang kesehatan jiwa (psikis). Terutama bagi sang calon ibu.

    Pendidikan terbaik bagi anak-anak sesungguhnya adalah ketika anak-anak tersebut berada di dalam rahim ibunya. Kita diberikan pengetahuan modern tentang stimuli janin melalui suara (musik), sentuhan ke perut ibu, dsb untuk merangsang perkembangan janin lebih positif.

    Sejatinya itulah proses pendidikan. Ajarkanlah Al Quran ketika anak berada dalam rahim, dengan ibunya membaca Al Quran, ajarkanlah anak tentang kesabaran dengan cara ibunya berusaha menahan marah kepada suaminya ketika sedang “bete”/ badmood saat hamil. Ajaklah anak membaca buku-buku bermutu ketika anak sedang dalam rahim. Itulah pendidikan yang seringkali dilewatkan oleh para pasangan yang tidak mengetahui ilmu pernikahan dengan baik.

    Selain itu, perlu diketahui pula mengapa baiknya perempuan lebih baik menikah pada usia yang tepat. Agar sel telur masih dalam kondisi yang paling baik ( sekitar usia 25 -30 ) . Lebih dari usia 35 tahun, sel telur tidak lagi dalam kondisi yang baik bahkan cenderung buruk yang akan berisiko anak lahir cacat/downsyndrome. Dan ada waktunya bagi perempuan akan berhenti memproduksi sel telur. Namun, laki-laki selama dia sehat, dia akan selalu bisa memproduksi sperma. Kondisi ini harus diketahui dan dipahami oleh laki-laki dan perempuan karena memiliki pengaruh pada fisik dan psikis. Saling mengerti dan memahami itu penting, tak terkecuali perkara biologis.

    Ilmu kedokteran merinci lebih detil tentang kesehatan reproduksi, tidak ada salahnya bagi pasangan suami istri untuk berkonsultasi dan belajar. Pengetahuan itu tersebar di seluruh bumi, namun hanya orang-orang yang berakal saja yang mampu memahaminya.

    Tulisan tentang SPN dapat dilihat melalui tautan berikut : SPN SALMAN ITB

    Penulis menyusun rangkuman dari olah data materi SPN yang disampaikan, penulis menerima saran, kritik, dan diskusi yang membangun untuk menjadikan tulisan ini lebih bermanfaat.

    Jzk

    Show the 41 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #3 : Motivasi Menikah

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

    Tulisan SPN #3 seharusnya di tulis minggu lalu ( 10 Maret 2013 ), namun sebab saya naik gunung dan bolos SPN, saya baru sempat menuliskannya hari ini, terima kasih untuk teman saya Tias atas pinjaman catatannya

    Jika kita menarik secara general bahwa umur manusia itu cuma 65 tahun dan manusia menikah pada usia 25 tahun, maka manusia menghabiskan 40 tahun sisa umurnya dengan pernikahan.

    Maka dengan logika yang sangat sederhana tersebut, lebih dari setengah usia hidup dihabiskan dalam sebuah hubungan, siapa yang tidak mempersiapkannya dengan baik bisa jadi membuat 40 tahun tersebut menjadi waktu-waktu yang sia-sia, tidak bahagia, tidak menarik, dan sebagainya.

    Persiapan pernikahan bukanlah sekedar walimahan dan pesta pora, lebih penting dari itu adalah ilmu, ilmu yang akan digunakan untuk mengarungi 40 tahun sisa umur manusia.

    MOTIVASI


    Setiap hal memiliki asalan yang mendorong terjadinya hal tersebut, tak terkecuali pernikahan. Setiap orang memiliki alasan tersendiri yang mendorongnya untuk menikah. Islam sebagai agama penyempurna memberikan koridor yang terang terhadap alasan-alasan tersebut.

    Islam mengharamkan pernikahan dengan alasan yang buruk, misal laki-laki ingin menguasai harta perempuan, dan lain-lain.

    Islam bahkan menjadikan pernikahan wajib hukumnya bagi seseorang yang telah mampu dan khawatir terjerumus ke perbuatan zina.

    Ketika kita ingin menikah, kita harus menyelidiki diri kita sendiri, apakah motivasi kita sudah benar menurut islam ?

    Menikah bukanlah balap mobil, berlomba-lomba untuk yang tercepat menikah. Menikah adalah amanah, niatkahlah pernikahan dengan niat yang baik. Maka Allah akan memberikan “amanah” tersebut diwaktu yang tepat.

    MASA PERSIAPAN


    Persiapan menikah meliputi persiapan ruhiyah dan jasmaniyah. Kita memperbaiki kualitas diri termasuk dalam persiapan ruhiyah. Mempersiapkan mental sebaik mungkin, mempersiapkan bekal ilmu yang cukup, Dan lain-lain.

    Pada masa persiapan, kita juga dihadapkan pada aneka pilihan dalam wujud lahiriah, berupa umur, rupa, kesehatan, dsb. Meski kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berjodoh, tapi kita selalu bisa mengusahannya.

    Misal kita ingin pasangan kita lebih tua atau lebih muda 5 tahun dari kita, kita bisa mencarinya. Kita diberikan pengetahuan bahwa perempuan secara biologis lebih cepat menua baik secara fisik maupun psikis daripada laki-laki, sebab itu pula laki-laki disarankan mencari perempuan yang lebih muda darinya. Ini adalah saran-saran masa kini yang tentu saja tidak ada salahnya dipertimbangkan.

    Perkara nanti jodoh bagaimana, itu urusan Allah.

    Selain itu, persiapan lahirian bisa juga berupa persiapan secara materi. Meski rejeki sungguh urusan Allah, tapi seseorang yang mampu mempersiapkan kesiapan materi yang baik tentu akan lebih “pede” dan “yakin” dalam menatap masa depan pernikahanya. Laki-laki sebagai pemberi nafkah nantinya bisa dilihat kesiapannya dalam tanggungjawabnya dalam keseriusanya mempersiapkan hari esok setelah ijab kabul.

    Asal kita harus selalu berpegang teguh, tidak menjadikan kesiapan materi sebagai indikator utama , itu hanya menjadi salah satu faktor kecil sebuah keseriusan. Dan tidak pula menjadikannya alasan untuk menunda-nunda pernikahan.

    MEMPERSIAPKAN


    Agar kita tidak mudah tergoda oleh laki-laki/perempuan lain ketika sudah menikah caranya mudah, dari sekarang carilah yang paling baik.

    Paling baik menurut siapa ? Allah tentu saja.

    Bagaimana mengetahuinya? caranya lihat diri kita sendiri, sudah sebaik apa.

    Seperti telah diuraikan pada materi SPN sebelumnya, bahwa jodoh adalah perkara kualitas. Sekiranya kita telah memperoleh yang terbaik dan percaya penuh bahwa yang kita peroleh adalah memang yang terbaik. Inshaallah kita tidak akan mudah tergoda oleh yang lain ketika telah menikah.

    Sebagaimana prolog diatas, bahwa kita akan menghabiskan lebih dari separuh hidup kita dalam ikatan pernikahan. Kita, sebagai generasi yang ditakdirkan masih lajang hingga hari ini, sediakanlah waktu untuk terus belajar tentang ilmu pernikahan. Pernikahan adalah perkara dunia dan akhirat. Ilmu untuk mengarunginya pun meliputi ilmu dunia dan ilmu akhirat (agama).

    Perbaiki niat (motivasi) agar Allah memberikan petunjuk yang lurus, segala sesuatu sungguh bergantung pada niat. Dan ujian terberat bagi niat adalah komitmen akan niat tersebut. Semoga Allah menjaga niat kita tetap pada mulanya. Bahwa pernikahan adalah semata-mata jalan menuju keridhoan Allah.

    Tulisan tentang materi SPN dapat disimak seluruhnya melalui tautan berikut ini : SPN SALMAN ITB
    Penulis menerima saran, kritik, dan diskusi yang membangun.

    Jzk.

    Show the 60 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN#2 bagian 4 : Aku Untuknya - Dia Untukku

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

    Allah lah yang menetapkan, apapun dia - apapun aku, bagiamanapun aku - bagaimanapun dia, siapapun aku - siapapun dia , mengapakan aku - mengapakan dia

    Pertanyaan-pertanyaan diluar nalar dan jangkauan manusia semuanya habis di telan oleh fakta bahwa Allahlah yang memiliki keputusan akhirnya.

    Nikah bukanlah kontrak sosial masyarakat, nikah adalah ketetapan dari Allah bahkan sejak manusia belum dilahirkan. Ini diisyaratkan melalui kalimat ijab qabul pada pernikahan.

    "Telah aku nikahkan … ."
    dan kemudian dijawab
    "Telah saya terima nikahnya … ."

    Penggunaan kalimat masa lampau ( past tense ) pada ijab qabul bukanlah sesuatu yang kebetulan. Tapi sengaja. Sebagai tanda bahwa sejatinya kita telah dinikahkan oleh Allah kepada seseorang melalui ketetapan yang jauh-jauh hari sudah dibuat di Lauhul Mahfuz.

    Ijab Qabul adalah proses formalisasi keputusan Allah tersebut di dunia, sebagai tanda bahwa kita telah terikat oleh perjanjian terkuat ( mitsaqan ghaliza - lihat bahasan pada SPN#1 ) dan sebagai tanda bahwa Allah tidak pernah salah menetapkan.


    Jodoh adalah rejeki dan sama seperti dengan rejeki yang lain, ia harus diusahakan.

    Dalam islam, tidak dikenal yang namanya “Salah Jodoh” , lantas bagaimana bila ada perceraian. Berarti usia jodohnya keduanya tidaklah lama. Bukan begitu ?

    Kita juga harus memperbaiki persepsi kita, bahwa Allah sendiri telah mengisyaratkan dalam Al Quran yang mulia. Bahwa jodoh ditetapkan bukan antara si A dan si B. Bukan Kurniawan Gunadi dengan si Fulan. Tapi pasangan karakter.

    "Perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik, dan sebaliknya. Perempuan pezina untuk laki-laki pezina dan sebaliknya"

    ( lihat surat An Nur ayat 3 dan ayat 26 )

    Makanya kita jangan pernah berputus asa, sebab yang Allah jodohkan adalah karakter. Makanya kita dituntut untuk terus memperbaiki kualitas diri agar Allah menjodohkan kita dengan orang yang baik-baik dan setara dengan kualitas diri kita.

    Jodoh bukan lah tentang nama orang , namamu dan namanya. Tapi kualitasmu dengan kualitas seseorang.

    Tentu saja kita akan menjumpai beberapa Anomali, seperti istri Firaun yang beriman mengapa bisa bersuamikan Firaun? Atau justru istri Nabi Nuh a.s yang membangkang, padahal kurang apalagi coba dia telah bersuamikan seorang Nabi yang mulia tapi dia sama sekali tidak memperoleh kemuliaan tersebut. Allah lebih mengetahui, tapi kita bisa belajar begitu banyak.

    Allah menjodohkan kita kepada seseorang berdasarkan pada kualitas kita, kualitas secara total. Baik keimanan, dll. Bukan aspek kualitas secara parsial. Jika kita melihat pasangan kita nanti nya memiliki kekurangan pada suatu hal, pasti dia memiliki kelebihan di hal yang lain. Seperti itulah.

    Kita tidak bisa dengan mudah menhakimi seseorang itu “tidak baik” hanya karena ia tidak berkerudung. Sebab itu hanyalah salah satu bagian “kekurangan” jika kamu mengganggap itu sebuah kekurangan. Tapi jika kamu mengguggurkan seluruh kebaikan lainnya yang ada pada dirinya hanya karena ia tidak berkerudung. Sungguh Allah lebih mengetahui yang tersembunyi.

    Tidak berkerudung memang salah dan tidak menaati syariat, tapi kita tidak dibenarkan untuk menilai. Allahlah yang Maha Menilai.

    Kelebihan yang kita memiliki akan melengkapi kekurangannya. Dan kekurangan yang kita miliki akan ditutupi dengan kelebihannya.

    Demikian urain materi SPN #2 , Penulis menerima koreksi, kritik, dan diskusi agar materi ini bisa tersampaikan dengan pemahaman yang tepat

    Simak seluruh materi SPN melalui tautan berikut : SPN Salman ITB

    Show the 66 notes
  • kurniawangunadi published a text post 1 year ago
    SPN #2 bagian 3 : Rumah Tangga adalah Sekolah

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahim

    Rumah Tangga itu adalah sekolah, sekolah yang baik adalah tempat dimana memperbaiki yang buruk menjadi baik, memperbaiki yang salah menjadi benar, mengharmoniskan yang belum harmonis, dan sebagainya.

    Ketika kita akan menikah, jangan pernah berpikir sedikitpun bahwa kita menerima pasangan kita telah baik. Menerima jadi ! Menikah bukanlah menerima orang yang “telah jadi” dan siap digunakan.

    Jadi pastilah dalam rumah tangga kita akan mendapati kekurangan dan hal-hal lain yang dirasa mengganggu hati. Tapi seperti pada kalimat pembuka, kita harus paham bahwa sejatinya rumah tangga adalah sebuah sekolah.

    Kita harus mampu saling memperbaiki apa yang salah baik pada diri kita atau pasangan kita. Proses belajar itu tidak akan berhenti pada satu tahun atau dua tahun masa pernikahan, tapi seumur hidup.

    Jika kita berpikir bahwa menikah adalah menerima pasangan yang “telah jadi” , “ready for use” bahasa gaulnya. Pasangan yang memenuhi segala kriteria yang kita buat. Kita akan dihadapkan pada kekecewaan nantinya apabila kita menemui ada hal yang tidak cocok dengan “selera” kita.

    Orang tua dalam mendidik anaknya untuk menjadi calon istri/suami hanya mampu mempersiapkan sampai pada tahap “calon yang baik”. Maka ketika kita berharap memperoleh istri/suami yang baik, maka itulah tugas kita.

    Mengutip kata M.Faudzil Adhim dalam buku “Saatnya untuk Menikah”

    "Cara untuk menjadi istri yang baik , hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik, hanyalah melalui istri"

    Tidak ada cara lain,apalagi via pacaran. Sebab pacaran hanya mengajarkan bagaimana menjadi pacar yang baik. Bukan suami/istri yang baik. Padahal pun pacaran itu sebenarnya tidak ada baiknya.

    Beberapa waktu yang lalu saya menemukan kalimat yang baik oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman

    Dan tempat yang paling baik untuk menimba ilmu bagi wanita adalah seorang suami yang shalih, penuntut ilmu dan bertaqwa kepada Allah.

    Suami adalah madrasah bagi istri, dan istri/ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Bingkai Rumah Tangga adalah lembaga yang melingkupi kesemua itu.

    Rumah tangga adalah tempat dimana proses pengenalan, pembelajaran, dan perbaikan yang tidak pernah berhenti.

    Simak tulisan lengkap tentang SPN pada tautan berikut : SPN Salman ITB

    Show the 44 notes